Pergantian Blog

July 17th, 2006 by fertob

Karena sesuatu dan lain hal blog ini akan dialihkan/dipindahkan ke blog penulis lainnya yang berada di wordpress. Alasan pemindahan ini dikarenakan blog ini sudah tidak dapat menampung lagi semua aktivitas dan kegiatan penulis. Blog ini tidak akan dihapus, tetapi hanya dikhususkan pada bagian-bagian yang bersifat personal.

Terima kasih.

“Atheisme” yang (Tidak) Bertuhan

July 14th, 2006 by fertob

Aaos2Atheisme sering dikatakan sebagai suatu paham yang tidak mempercayai Tuhan, baik itu keberadaannya maupun perannya dalam kehidupan manusia. Sulit untuk merunut sejak kapan paham ini ada di muka bumi ini. Walaupun demikian, banyak orang yang mengklaim dirinya adalah atheis. Atheisme sendiri mulai diberikan landasan rasional ilmiah ketika Ludwig Feuerbach menerbitkan bukunya The Essence of Christianity dan melakukan kritik agama khususnya agama Kristen.

Atheisme model Ludwig Feuerbach adalah filsafat model "tak lain daripada….". Hal ini karena pemikiran yang diajukan hanya melihat sesuatu dibelakang/dibalik yang dibicarakannya. Bukannya secara jujur menyatakan kebenaran dan kesalahan dari agama tetapi langsung masuk kedalam adanya sesuatu dibelakang layar dari agama itu: "bahwa agama tak lain daripada….." Landasan filosofis ini sering disebut dengan nama Reduksionisme.

Dalam tulisan ini saya hanya mengungkapkan 4 landasan berpikir para pemikir-pemikir aliran utama Atheisme. tentunya dengan penjelasan singkat ala kadarnya. Keempat pemikir itu,  yang ikut mempelopori filsafat kritis terhadap agama, adalah Ludwig Feuerbach, Sigmund Freud, Friederich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.

1. Atheisme Ludwig Feuerbach.
Feuerbach adalah orang yang pertama kali memberikan landasan rasional ilmiah terhadap atheisme. Dia juga adalah salah satu pendukung filsafat dialektis Hegelian. Alih-alih mendukung sepenuhnya konsep hegelian, hal yang menurutnya bertentangan antara dirinya dengan Hegel adalah tentang sesuatu yang nyata dan rasional. Bagi Feuerbach manusia adalah nyata dan rasional, sedangkan roh semesta (yang dinyatakan Hegel dan diasosiasikan dengan Tuhan/Allah) adalah sesuatu yang tidak nyata.

Bagi Feuerbach, agama adalah proyeksi manusia atas keterasingan dirinya. Agama menjadi tempat manusia mengasingkan dirinya dari kehidupannya. Sebagai proyeksi, agama tak lain daripada sesuatu yang diberikan manusia penghargaan positif bagi dirinya. Segala konsep tentang Tuhan, Malaikat, Surga, dan Neraka yang ada dalam agama adalah hasil dari proyeksi itu sendiri. Dengan kata lain manusia yang mengkonsepkan hal-hal itu. Manusia menciptakan Tuhan dan bukan Tuhan yang menciptakan manusia.

Agama berdampak positif bagi manusia. Segala sesuatu yang Maha, misalnya Adil, Baik, Penyayang, dll, yang ada dalam Tuhan Agama, tidak lain daripada proyeksi manusia itu sendiri. Hal itu sebenarnya telah ada dalam eksistensi manusia. Bukannya menjadikan sesuatu yang Maha itu menjadi milik pribadi manusia, manusia justru terjebak dalam pemujaan kepada agama dan Tuhan yang sebenarnya telah menjadi dirinya. Oleh karena itu manusia harus mengambil kembali ke-Maha-an itu kedalam dirinya. Agama bukanlah sesuatu yang menjadi pusat bagi manusia, tetapi pusatnya tidak lain adalah manusia itu sendiri.

2. Atheisme Sigmund Freud
Sigmund Freud adalah seorang psikiater yang menciptakan metode Psikoanalisis, suatu metode/teori yang kemudian menjadi salah satu aliran besar dalam psikologi. Freud mengikuti alur berpikir Feuerbach dengan landasan filsafat reduksionismenya, bahwa agama "tak lain daripada…".

Buku yang mengungkapkan atheisme Freud antara lain adalah Totem and Taboo (1913) dan Moses and Monotheism (1938). Menurut Freud, ritual agama mempunyai kemiripan dengan ritual obsesif kompulsif. Obsesif kompulsif adalah suatu gangguan psikologi (psychological disorder) dimana seseorang tidak mampu menahan keinginannya untuk melakukan suatu gerakan/perbuatan berulang-ulang, misalnya mencuci tangan berkali-kali, dll. Freud juga mengatakan "neurosis as an individual religion, religion as a universal obsessional neurosis". Suatu kalimat yang jelas nyata mengaitkan antara agama dan neurosis.

Dilain pihak, Freud juga mengatakan bahwa agama tak lain daripada sublimasi insting-insting seksual. Teori Psikoanalisis Freud dibangun diatas satu konsep yang disebut Psikoseksual, bahwa dorongan-dorongan seksual (sexual drive/libido) adalah dorongan yang terutama dalam diri manusia yang membuat manusia itu bertahan hidup. Sedangkan sublimasi adalah salah satu mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang dibangun manusia untuk menyeimbangkan egonya dari dorongan-dorongan yang berasal dari ketidaksadaran. Insting-insting seksual manusia harus diberi bentuk lain agar dapat diterima secara sosial, dan semuanya itu ada dan tampak dalam agama. Agama adalah sublimasi dari insting-insting seksual agar dapat diterima secara sosial di masyarakat.

3. Atheisme Friederich Nietzsche
"Whiter is God,’ he cried. ‘I shall tell you. We have killed him - you and I. All of us are murderers… God is dead. God remain dead. And we have killed him…" (Friederich Nietzsche, The Gay Science, 1882).

Kutipan diatas adalah pernyataan Nietzsche dalam salah satu bukunya. "God is dead" yang dikatakan oleh Nietzsche bukanlah pengertian Tuhan secara literal. Jika Tuhan telah mati berarti pada suatu saat Tuhan pernah ada. Apa yang dinyatakan oleh Nietzsche adalah kematian keagamaan di Eropa. Pengertian God is Dead adalah Tuhan dalam konteks Kekristenan di Eropa. Bahwa kepercayaan kepada Tuhan (pada saat itu adalah Kristen) adalah kepercayaan yang salah. Tuhan tidaklah lagi dapat dipercayai, dan oleh karena itu Dia telah mati, dan adalah tugas manusialah untuk membunuhnya (and we have killed him…).

Pandangan Nietzsche melegitimasi pandangan dalam bidang keilmuan (science), bahwa ilmu pengetahuan akan mengeluarkan Tuhan dari ranah kehidupan manusia. Filsafat, ilmu pengetahuan, politik, dan bidang lain akan memperlakukan Tuhan sebagai sesuatu yang tidak relevan dan tidak humanis.

4. Atheisme Jean-Paul Sartre
Sartre adalah salah satu tokoh terkemuka dalam Filsafat Eksistesialis. Dia adalah yang pertama kali mengatakan bahwa eksistensi mendahului esensi. Atheisme Sartre adalah salah satu inti dari filsafatnya.

Atheism10Sartre menolak konsep Tuhan karena konsep Tuhan berisi kontradiksi dalam dirinya (self-contradiction). Sartre mendefiniskan Tuhan sebagai konsep yang being-in-itself-for itself. Konsep Tuhan sebagai in-itself memproposisikan bahwa Dia adalah entitas yang eksis, sempurna dalam dirinya sendiri, dan secara total tidak berhubungan. Sedangkan konsep for-itself memformulakan bahwa Dia adalah bebas secara sempurna dan tidak terikat kepada apapun juga. Kesimpulan logika haruslah menolak konsep seperti itu karena konsep sintesa itu berisi kontradiksi dalam dirinya sendiri (JP Sartre, Being and Nothingness : An Essay in Phenomenological Onthology, 1943)

Selain itu konsep keberadaan Tuhan membatasi kebebasan dan eksistensi manusia. Konsep Tuhan diadopsi oleh manusia untuk memberi arti dunia ini. Manusia menemukan konsep ini untuk menerangkan sesuatu yang tidak dapat diterangkan (explain the unexplainable). Konsep Tuhan adalah keinginan manusia untuk memenuhi ketidaksempurnaannya dan ketidakmampuannya.

                                                                                    ====

Konsep-konsep Atheisme diatas dapat berkembang menjadi pemikiran-pemikiran baru dalam aliran-aliran atheisme. Dan perdebatab seputar konsep Ketuhanan akan terus berjalan sepanjang manusia masih memerlukan konsep itu.

Mengapa Saya Menulis ?

July 11th, 2006 by fertob

WenowknowwhoTak terasa blog ini sudah terisi oleh beberapa artikel dengan beberapa kategori. Dan tak terasa tulisan-tulisan itu sudah menghiasi beberapa situs yang saya ikuti. Ada sedikit perasaan bangga bahwa saya bisa menulis walaupun terkadang tulisan itu hanya sekedar omelan dan lontaran uneg-uneg akibat kepenatan badan dan hati.

Banyak yang diperoleh, begitu kata orang, dengan menulis. Menulis membuat imajinasi mengembara ke rawa-rawa pengetahuan, ke lembah-lembah peradaban, bahkan sampai ke hamparan padang pasir ketidaktahuan. Semuanya berawal dari ketidaktahuan. Itu kata orang. Dan semua membentuk proses menuju akhiran yang bahkan bisa berbentuk ketidaktahuan baru. Yang jelas tidak ada kesimpulan umum yang bisa saya buat. Tulisan hanya mengungkapkan makna dan arti dari segala sesuatu, seperti yang tertulis dalam tag line blog ini. Lalu kemana akhir dari tulisan itu ?

Satu hal yang selalu saya ingat dalam menulis adalah : jagalah dirimu. Menjaga diri dari prasangka yang buruk walaupun itu terkadang terlepas liar tak terkendali, menjaga diri dari perasaan paling merasa tahu dan paling merasa mampu yang berujung pada kesombongan diri, menjaga diri dari kesimpulan liar tanpa bukti, dan juga menjaga diri dari tulisan yang tak bermakna. Tapi terus terang, semuanya sangat susah untuk dilakukan.

Ketika menulis tentang pendidikan, saya cenderung terjerumus dalam dikotomi pro dan kontra terhadap UAN. Ketika menulis tentang cinta dan kebodohan, saya cenderung terperosok dalam prasangka kebodohan orang atas nama cinta. Ketika menulis tentang keberuntungan, saya cenderung terjatuh dalam pengagungan terhadap hal-hal yang belum pasti seperti keberuntungan itu sendiri. Ketika menulis tentang Soeharto, saya cenderung terjerumus sekali lagi ke dalam praduga tak bersalah. Dan masih banyak lagi hal-hal yang membuat moto "jagalah dirimu" tidak selamanya berhasil dalam tulisan ini.

Di lain pihak menulis adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan dan membantu diri saya. Menulis mengembangkan hal-hal yang selama ini tidak saya sadari dari diri saya. Menulis membelah ketidaksadaran saya dan mengeluarkannya dari kegelapan walaupun hasil yang didapat masih berbentuk kegelapan juga. Tapi itulah fungsi menulis. Membuat diri kita berekspresi ke luar tanpa batas. Tak ada batasan dalam menulis bahkan ketika kita menulis hal-hal yang sudah umum dibicarakan oleh orang lain.

Dan ketika tulisan-tulisan itu sudah menggunung dan ketika saya merefleksikannya kembali, terbersit keinginan kecil dalam hati untuk berhenti menulis. Capek dan lelah, malas, tak berguna, dan banyak alasan lain untuk menghentikan aktivitas ini. Semuanya itu bukan membuat diri saya makin nyaman tapi justru membuat menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus tidak menyenangkan. Menggairahkan sekaligus melelahkan. Dan yang terpenting menarik sekaligus membosankan.

Tapi apakah semuanya itu akan berhenti ? Saya sendiri tidak tahu. Tidak tahu mungkin kata yang paling tepat menggambarkan aktivitas ini. Berawal dari ketidaktahuan dan berakhir pada ketidaktahuan. Jadi ketika menulis membuat saya tidak tahu, maka saya akan terus menulis sampai ketidaktahuan itu justru membebaskan diri saya dari prasangka paling mengetahui. Kontradiktif ? Mungkin saja, tapi itulah yang membuat tulisan-tulisan ini menjadi berarti bagi saya, dan entah buat orang lain. Sama tidak tahunya ketika seorang bayi baru lahir dan tidak mengetahui apapun yang terjadi di dunia ini. Itulah saya, yang berusaha untuk menjadi bayi yang baru lahir atau seperti papan putih tabula rasa yang berusah menyerap semua apa yang ada didunia ini dan menuliskannya kembali. Dan ketika bayi itu tetap menjadi bayi atau papan tabula rasa itu tetap berwarna putih setidaknya ketidaktahuan itu pernah diisi oleh sesuatu.

Ternyata Cinta… (Cinta tidak Bodoh, tapi Bisa Bikin Orang jadi Bodoh)

July 9th, 2006 by fertob

         Dan ternyata cinta yang menguatkan aku….
         Dan ternyata cinta tulus mendekap jiwaku…
                                     (Ternyata Cinta by Padi)

Amor_de_serpiente
Lirik lagu dari grup musik Padi diatas sangat manis terdengar. Dan saya yang merupakan penggemar Padi bisa merasakan kekuatan dalam lagu itu, baik secara lirik maupun musik.

Tapi bukan itu intinya. Yang menjadi permasalahan adalah cinta itu sendiri, yang teramat sering diumbar dalam bentuk lagu. Sedemikian dahsyatkah cinta itu sehingga hampir tiap lagu yang saya dengar, baik dari televisi, radio, komputer, ataupun media yang lain, selalu bertema cinta dan cinta ? Retoris memang, karena jawabannya sudah pasti. Tetapi apakah cinta itu sampai sedemikian dahsyatnya memainkan peran dalam kehidupan manusia ?

Tentu saja kalau saya menjawab pertanyaan bodoh diatas (apakah cinta itu ?), saya akan menjadi seperti orang bodoh. Sulit untuk mendefiniskan cinta, dan jika anda menanyakan hal itu pada sejuta manusia, saya yakin, dan teramat sangat yakin, bahwa anda akan mendapatkan sejuta jawaban, dan terkadang jawaban yang bodoh. Di lain cerita, cinta, seperti dalam lirik lagu Padi, bisa mempunyai banyak fungsi, tugas, wewenang, makna, dan tetek bengek lainnya. Seperti : menguatkan aku, tulus mendekap jiwaku, mampu menjawab perbedaan, dll.

Saya koq tiba-tiba jadi orang yang bodoh tentang cinta ? Saya punya beberapa teman yang mencintai orang lain yang jelas-jelas "tidak selevel" dengan dirinya. Anda tahu maksudnya, bukan ? Saya mengandaikan anda sudah tahu maksudnya. Maksudnya begini: ada teman saya yang pacaran dengan satu orang tapi menikah dengan orang lain, ada yang menikah tanpa pernah pacaran (bahkan katanya tidak suka) dan cintanya timbul setelah mereka menikah dan punya anak, ada  teman yang tidak pernah ketemu selama lebih dari 5 tahun (dan dulunya juga tidak pacaran) dan sekali ketemuan 3 bulan kemudian langsung menikah, dan kasus-kasus yang lain. Itu maksud saya dengan "tidak selevel". Itu juga dengan pengandaian bahwa kenalan, pacaran, menikah dan sebagainya sebagai manifestasi (?) adanya cinta. Itu bisa salah, tetapi setidaknya sudah diterima umum.

"Ketidakselevelan" ini membuat orang yang mempunyai cinta menjadi tampak bodoh dalamAmor_25_1
pandangan orang lain. Bodoh karena dengan cinta yang dia punya, dia bisa membuat pilihan yang tampaknya bodoh dalam hidupnya, (dalam pandangan orang lain, sekali lagi !) dan beroleh kebahagiaan dengan pilihannya itu. Dan ketika ditanya, mengapa membuat pilihan seperti itu, jawabannya-pun sumir : That’s Love. Gubraaakkkk…!!!!

Tapi jika pilihan itu membuat bahagia, kita bisa mengatakan "sengsara membawa nikmat" atau "berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian". Di cerita yang lain, ada orang-orang yang tidak membuat pilihan yang bodoh dalam kehidupan cintanya, tetapi benar-benar menjadi bodoh karena cinta. Anda tahu maksudnya ? Dirinya benar-benar menjadi "bodoh" (sekali lagi, dalam pandangan orang !) karena cinta yang dipunyainya membuat hidupnya hancur berantakan. Ada yang meninggalkan teman-temannya karena mencintai orang lain yang tidak suka teman-temannya itu, ada yang merelakan harta hanya untuk cinta yang tidak pernah dapat diraihnya, bahkan ada yang rela kehilangan nyawa untuk cintanya.

Bodohkah mereka ? Dalam kasus tertentu bisa saja tidak bodoh, tetapi bisa dikatakan pengorbanan, kepahlawanan, kekuatan, dan lain sebagainya. Tetapi di kasus-kasus cinta antar manusia dewasa yang sebagian besar berisi ketertarikan akan fisik dan penampilan lalu menggeneralisasikannya sebagai cinta, hal itu bisa berarti kebodohan, tanpa embel-embel pengorbanan atau kepahlawanan. Itulah, cinta mempunyai kekuatan untuk "membodohkan" seseorang.

Tetapi jika cinta mempunyai kekuatan seperti itu, apakah cinta, dan kata kerjanya, mencintai adalah juga sebuah kebodohan. Saya berani untuk mengatakan tidak. Cinta sebagai sebuah rasa tidak pernah dikaitkan dengan kebodohan. Justru cinta sering diungkapkan dengan anugerah, bahwa adalah suatu anugerah untuk mempunyai cinta dan mencintai. Dalam pendekatan spiritualitas, cinta adalah karunia yang diberikan oleh Sang Pencipta agar ciptaannya dapat mengenal lebih dekat ciptaan yang lain dan juga dapat lebih mengenal penciptanya. Indah memang.

Ternyata cinta memang tidak bodoh, yang bodoh seringkali adalah manusia yang mencintai. Kebodohan sering timbul karena cinta diagungkan melebihi kehidupan. Cinta tanpa kehidupan bisa berarti kesia-siaan, dan kehidupan tanpa cinta bisa berarti…. Saya tidak ingin membayangkannya, karena saya takut akan terwujud.

Anda tahu maksudnya, bukan ?

 

Menggugat Kualitas Pendidikan Indonesia

July 3rd, 2006 by fertob

Eyl_logo
Hari ini kita bicara tentang kualitas pendidikan. Bung Bambang Sudibyo, sang Mendiknas ketika ditanya mengenai kualitas pendidikan di Indonesia dan keterkaitannya dengan Ujian Akhir Nasional (UAN) mengatakan bahwa tingkat kelulusan 90% untuk level SMA menandakan adanya peningkatan kualitas pendidikan. Di lain waktu Bung Jusuf Kalla, sang Wapres, mengatakan bahwa kualitas pendidikan adalah yang terutama, sehingga upaya penghapusan UAN tidak mungkin dilakukan karena kita tidak bisa bermain-main dengan kualitas pendidikan itu.

Ada apa dibalik ucapan kedua petinggi negara ini sehingga mengkaitkan kualitas lulusan "proyek UAN" dengan kualitas pendidikan nasional. Tapi kita perlu membedah dan perlu bertanya lebih dalam tentang berbahayanya memakai kata "kualitas pendidikan" sebagai pemaafan terhadap proyek UAN.

1. Antara telur dan ayam : kualitas vs pemerataan

Perdebatan seputar mana yang harus dipriorotaskan, apakah kualitas pendidikan ataukah pemerataan pendidikan adalah seperti memperdebatkan mana yang lebih dahulu, ayam atau telur. Bagi saya, keduanya harus diprioritaskan dalam kondisi normal. Tetapi dalam kondisi dimana pendidikan menjadi suatu alat membangun manusia, maka pemerataan pendidikan haruslah mendapat tempat utama. Logikanya begini. Negara kita bertujuan membangun manusia Indonesia seutuhnya (lihat Pembukaan UUD 1945). Manusia Indonesia seutuhnya adalah manusia yang terdidik, baik intelektualitasnya, emosinya, maupun perilakunya. Dan pembangunan itu hanya, dan hanya bisa, didapat melalui pendidikan. Oleh karena pendidikan menjadi alat utama dan terutama dalam membangun manusia, maka yang dibutuhkan dan diperlukan oleh bangsa Indonesia sekarang ini adalah kesempatan memperoleh pendidikan yang seadil-adilnya bagi SELURUH rakyat Indonesia.

Orang Papua dapat menikmati pendidikan seperti saudara-saudaranya di Jakarta, Medan, Banjarmasin, Kupang, Gorontalo, Ternate, atau dimana saja di Indonesia ini. Dan pendidikan yang mereka dapatkan adalah pendidikan yang merata, dalam arti merata dalam hal kurikulum, sarana-prasarana, guru, buku pelajaran, dan seterusnya. Jika hal ini belum diwujudkan, berarti sebagai warga negara yang berhak mendapatkan pendidikan, mereka telah diabaikan. Setelah pemerataan ini tercapai, kita baru bisa bicara tentang kualitas. Setelah semua anak negri ini mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan, baru kita bicara kualitas. Menurut data BPS tahun 2003, angka buta huruf di Indonesia yang berusia diatas 10 tahun mencapai 9,07% atau 15,5 juta orang. Apa artinya angka ini ? Artinya pendidikan belum merata dinegeri ini, karena masih banyak rakyat yang bahkan masih belum bisa membaca dan menulis. Lalu bagaimana kita bisa berpikir mendahulukan kualitas pendidikan sedangkan pendidikan masih belum merata di negeri ini ? Kualitas pendidikan hanya diperbincangkan di kota-kota besar, sambil mengandai-andaikan dan menduga-duga bahwa di tempat lain sama keadaannya dengan di kota besar. Suatu ironi ?

2. Interpretasi Angka dan Persentase

Angka kelulusan untuk tingkat SMA (sebagai contoh) adalah minimal memperoleh nilai 4,26 untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Apakah arti angka 4,26 ini ? Kita bisa mengartikan bahwa siswa dengan nilai rata-rata dibawah 4,26 berkualitas lebih rendahImage016
dibandingkan siswa dengan nilai rata-rata diatas 4,26. Pernyataan diatas tidak salah kalau kita mengkaitkan bahwa UAN akan menghasilkan lulusan yang mempunyai kualitas yang bagus. Benarkah ? Sama sekali SALAH. Nilai bukanlah satu-satunya indikator penentu kualitas pendidikan, apalagi jika nilai itu tidak komprehensif alias tidak mencakup seluruh aspek pembelajaran yang siswa ikuti selama 3 tahun (untuk SMA) bersekolah.

Interpretasi terhadap nilai itu dapat juga berarti bahwa lulusan tahun ini (2006) yang berstandar nilai 4,26 mempunyai kualitas yang lebih bagus dibandingkan lulusan tahun 2004 yang bersatandar nilai 3,01. Interpretasi ini sah-sah saja jika kita mengkaitkan nilai kelulusan dengan kualitas hasil pendidikan. Tapi interpretasi atas nilai terkait kualitas akan mengabaikan seluruh aspek pembangunan manusia dalam pendidikan dengan hanya melihat NILAI sebagai satu-satunya Titik Potong Kualitas Pendidikan. Pendidikan lalu hanya berkutat soal nilai dan nilai, tanpa ada pesan dan harapan lain didalamnya. Kita lalu membuat label (labelling) terhadap siswa, bahwa siswa dengan nilai dibawah 4,26 adalah bodoh alias tidak berkualitas, sedangkan siswa dengan nilai diatas 4,26 adalah pintar dan berkualitas. Sangat menyedihkan.

Dilain pihak, Bung BS sempat berkomentar bahwa siswa SMA (sebagai contoh) yang berhasil lulus UAN mencapai angka diatas 90%, dan itu berarti adanya peningkatan kualitas pendidikan, karena yang berhasil lulus tahun lalu (2005) hanya mencapai 80-an persen saja. Benarkah ini ? Menyedihkan rasanya, kalimat seperti itu diucapkan oleh orang yang paling bertanggung jawab atas pendidikan di negeri ini. Dari mana sang Menteri bisa menyimpulkan bahwa angka 90% lebih berkualitas dari angka 80% ? Sementara dilain cerita kita telah terbiasa dengan hal-hal mencurigakan yang terjadi selama penyelenggaraan UAN, seperti yang diberitakan Metro TV dalam acara Metro Realitas tanggal 29 Juni lalu tentang kecurangan di seputar UAN.

Jika kualitas pendidikan hanya dipermainkan seputar angka dan persentase, kita akan siap sedia melihat bahwa pendidikan Indonesia akan kehilangan maknanya dalam membangun manusia Indonesia.

3. Kualitas Pendidikan dan Anggaran Pendidikan

Selain berbicara kualitas, kita juga harus tahu bahwa konstitusi kita mengamanatkan agar anggaran pendidikan mencapai 20% dari pendapatan nasional. Tapi apa yang dicapai sampai sekarang ? Anggaran 20% itu tak tercapai, bahkan pemerintah sibuk berkelit bahwa anggaran itu bukanlah suatu keharusan dan kewajiban. Anggaran memang bukan satu-satunya penentu kualitas pendidikan, tapi tanpa adanya anggaran, kita tidak bisa melihat pendidikan yang layak dan pantas di Indonesia.

Articletemplate7_clip_image001
4. Pelabelan Pintar/Bodoh

Lulusan UAN adalah siswa yang telah berhasil mengerjakan soal-soal yang disusun oleh pemerintah dalam rangka penentuan standar nasional. Dan orang-orang yang tidak lulus UAN adalah orang-orang yang gagal. Apakah mereka bodoh ? Jika kita memakai paradigma pemikiran bahwa standar 4.26 (sebagai contoh) adalah standar penentu kualitas pendidikan, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa siswa yang gagal adalah bodoh dan malas. Apakah benar seperti itu ?

Pertanyaan itu terus terang menohok pengertian kita tentang psikologi orang-orang bodoh. Apakah orang-orang yang gagal dalam pendidikan adalah orang bodoh ? Terus terang pelabelan seperti ini melanggar hakikat manusia, bahwa manusia itu dilahirkan berbeda dengan kemampuan dan kekurangan yang berbeda-beda. Howard Gardner, seorang psikolog dari Universitas Harvard mengatakan bahwa pada dasarnya inteligensi itu tidaklah tunggal, tetapi terdiri atas beberapa dimensi yang berbeda pada tiap manusia. Inteligensi yang berbeda-beda itu misalnya adalah linguistic intelligence, spatial intelligence, body-kinestetic intelligence, logical-mathematical intelligence, musical intelligence, dll. Apa artinya itu ? Artinya, setiap siswa yang tidak lulus UAN dan dikatakan bodoh, bukanlah manusia-manusia yang benar-benar bodoh, tetapi mempunyai kecerdasan yang berbeda dengan siswa-siswa lain yang lulus UAN.

Seseorang dapat cerdas dalam spatial intelligence tetapi lemah dalam logical-mathematical intelligence. Lalu dapatkan kita mengatakan dia bodoh ? Tidak bisa. Oleh karena itu, UAN yang hanya menyaratkan jenis inteligensi tertentu sebagai syarat kelulusan mempunyai kecenderungan dalam pelabelan bodoh/pintar. Yang lulus pintar dan yang tidak lulus bodoh. Sangat menyedihkan.

5. UAN sebagai standar

Jika UAN akhirnya dipaksakan sebagai standar kualitas pendidikan, tentunya UAN haruslah memenuhi berbagai syarat antara lain : penelitian menyeluruh dan mendalam atas standar pendidikan nasional kita. Setelah kita melakukan penelitian menyeluruh itu barulah kita berbicara tentang standar pendidikan. Selain itu, UAN bukanlah dipakai sebagai PENENTU KELULUSAN. UAN tidaklah menggambarkan dinamika pendidikan di sekolah-sekolah. UAN dapat dipakai sebagai cara kita mengetahui pengetahuan siswa, dibandingkan dengan daerah lain, dalam menyerap ilmu yang telah diberikan. Lebih dari itu, tanggung jawab atas kelulusan siswa haruslah diberikan kepada orang yang paling mengerti tentang siswa itu sendiri, yaitu Guru.

Lalu, mau kita kemanakan UAN yang telah terlaksana itu ? Bahasa gaulnya, lebih baik ke laut saja. Mungkin disana UAN model ini bisa ketemu dengan teman-teman sehatinya.

Saya Muak dengan Pendidikan Indonesia

June 29th, 2006 by fertob

Moe
Sebulan ini kita disibukkan dengan berita seputar dunia pendidikan. Berawal dari ujian akhir nasional  (UAN) dan berakhir di gedung parlemen, dimana Mendiknas saling adu argumen dengan wakil rakyat. Dan salah satu keputusan penting yang didapat adalah : tidak ada ujian susulan bagi siswa-siswa yang tidak lulus UAN.

What the joke ? Lelucon yang ada di seputar pendidikan kita adalah binatang yang bernama Ujian Akhir Nasional (UAN). UAN adalah suatu bentuk evaluasi hasil belajar yang dilakukan terhadap peserta didik untuk mengetahui tingkat keberhasilan mereka dalam menyerap pengetahuan yang diberikan. Oleh karena itu, evaluasi adalah suatu hal yang wajib dilakukan dalam dunia pendidikan untuk mengetahui tingkat keberhasilan itu. Masalahnya adalah, evaluasi itu dilakukan oleh orang/lembaga/institusi yang tidak mengetahui seberapa jauh proses belajar yang dilakukan oleh peserta didik. Sama seperti saya yang tiba-tiba memberikan ujian kepada siswa kelas 6 SD tanpa mengetahui dinamika dalam proses belajar-mengajar mereka.

Dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 58 ayat (1) dikatakan "Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan". Dari ayat ini sudah diketahui bahwa yang berhak dan berkewajiban menyelenggarakan evaluasi terhadap peserta didik atas proses hasil belajar adalah pendidik alias GURU. Hal ini karena guru-lah yang paling tahu tentang proses belajar di dalam kelas, guru-lah yang paling mengerti tentang kemajuan proses belajar peserta didik, dan guru-lah yang dapat menentukan apakah peserta didik itu berhasil atau tidak dalam proses belajar itu. Itulah salah satu gunanya guru.

Educationteachersbr
Lalu tiba-tiba kita dikejutkan bahwa Negara (baca : pemerintah/depdiknas) menyelenggarakan UAN yang berfungsi sebagai evaluasi hasil belajar dan juga sebagai penentu kelulusan/keberhasilan peserta didik. What the joke !! Apa yang pemerintah tahu tentang proses belajar di kelas ? Apa yang pemerintah tahu tentang kemajuan proses pendidikan ? Apa yang pemerintah tahu tentang sampai seberapa jauh seorang peserta didik bisa mengikuti tingkat pendidikan itu ? Nothing.

Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah mengatakan bahwa UAN diperlukan untuk menyeragamkan dan meningkatkan mutu atau kualitas hasil pendidikan di Indonesia. Pendapat itu dikuatkan oleh Mendiknas Bambang Sudibyo, mengomentari tingkat kelulusan UAN di SMU yang mencapai diatas 90%, yang mengatakan bahwa adanya kenaikan mutu lulusan SMU. What bullshit ? Orang apatis pun tahu kalau kualitas pendidikan sangatlah jomplang di negara ini. Bung JK dan Bung BS tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa kualitas pendidikan di negara ini sama sehingga perlu diadakan UAN yang terstandarisasi untuk menyeragamkan dan meningkatkan mutu pendidikan. Saya yakin mereka berdua tahu tentang pemerataan kualitas pendidikan di negara ini.

Kita tidak bisa membandingkan kualitas pendidikan di Papua dan di Jakarta. Itu sama sajaIjazah1
membandingkan kecepatan lari kuda dan siput. Semua orang tahu bahwa ada disparitas. Lalu ketika ada ujian nasional yang terstandarisasi, kita memakai standar yang mana ?

Salah satu yang dilupakan oleh penentu kebijakan pendidikan di negara ini adalah dalam filosofi pendidikan, hasil ujian bukanlah salah satu indikator keberhasilan pendidikan. Yang terpenting dan jarang disorot adalah proses pendidikan itu sendiri. Pemerintah hanya mau tahu hasil akhir (dengan sistem yang bernama ujian nasional terstandarisasi) tanpa melihat bagaimana proses pendidikan itu berjalan. Yang paling mengerti tentang proses pendidikan adalah Guru, karena mereka terlibat langsung di dalamnya dan mereka telah diamanatkan oleh undang-undang menjadi pihak yang berwenang mengevaluasi hasil belajar peserta didik.

Keberhasilan pendidikan juga tidak bisa dilihat dari kertas nilai hasil ujian dengan nilai sekian dan ada cap LULUS (yang ditentukan pemerintah). Pendidikan adalah proses membangun manusia seutuhnya. Bukan hanya membangun kecerdasan (intelektual) belaka, tapi juga membangun dan meningkatkan afeksi dan motorik. Saya rasa pemerintah tidak perlu diajari masalah itu. PendidikanHate
yang lebih menguatamakan kecerdasan akan menghasilkan output berupa manusia kering emosi dan perilaku. Jadi seperti apa manusia seperti ini ? Yang jelas salah dua profesinya adalah koruptor dan provokator.

Banyak orang pintar di kalangan pemerintahan. Tapi orang pintar yang tidak pintar menyusun kebijakan pendidikan adalah orang pintar yang keblinger. Dan hasil yang didapat dari kebijakan pendidikan yuang keblinger adalah generasi keblinger. Generasi tanpa harapan. Lalu, masihkah kita berharap terhadap pendidikan di tanah air ini ? Harapan selalu ada, tapi kenyataan sekarang berbeda dengan harapan ideal.

Oleh karena itu, maaf kalau saya mengatakan : Saya Muak dengan Pendidikan di Negara ini.

I Believe in “Lucky”

June 28th, 2006 by fertob

LuckSejak kecil saya paling senang membaca, terutama komik ala Disneyland. Dan salah satu komik yang saya sukai adalah serial komik Donald Bebek. Donald adalah tokoh utama dari komik ini yang digambarkan selalu mendapat kesialan dan ketidakberuntungan, sedangkan Untung adalah tetangga Donald yang digambarkan selalu beruntung, bahkan jika tidak sedang berbuat apapun, dia selalu beruntung. Untung adalah gambaran orang beruntung, sedangkan Donald adalah gambaran orang sial. Dikotomis dan simple, tapi disitulah salah satu letak kelucuan komik ini.

Kita seringkali mendengar kata Beruntung dalam perbendaharaan bahasa setiap hari. Beruntung biasanya selalu dikonotasikan positif, bahwa kita mendapatkan sesuatu yang tidak terduga-duga atau kita berada pada suatu situasi dimana kita diberikan kemudahan, dan semuanya itu diluar perkiraan kita. Tapi apakah selalu begitu ?

Seorang teman saya pernah mengalami kecelakaan tabrakan mobil tetapi dia hanya luka lecet, sedangkan orang dalam mobil yang menabraknya luka parah. Apa kata dia setelah kecelakaan itu ?  "Untung saya nggak luka parah seperti orang itu". Dia hanya lecet di tangan, sedangkan orang lain luka parah di kepala, dan dia mengatakan dia beruntung: untung saya cuma luka ringan. Benarkah dia beruntung ? Tentu saja dia tidak beruntung, karena yang pasti dia tidak beruntung karena tabrakan itu. Ketidakberuntungannya bisa dilihat disini: mobilnya rusak parah dan butuh perbaikan dan juga butuh uang, dia juga harus berobat ke rumah sakit, urusan dengan polisi, dlsb, dlsb. Tetapi kalau dilihat dari jenis lukanya yang hanya berupa lecet di tanah dibandingkan dengan orang lain yang terluka parah, dia dikatakan beruntung. Orang yang terluka parah-pun akan dikatakan beruntung karena tidak meninggal, dan saya yang mendengar ceritanya akan mengatakan bahwa saya juga beruntung karena bukan saya yang tabrakan.

Beruntung dalam kasus diatas selalu dikaitkan dengan tingkat kesulitan/kemudahan yang kita bandingkan dengan orang lain yang tidak mendapatkannya atau orang lain yang lebih/kurang mendapatkannya. Meninggal, pasti tidak beruntung. Luka parah, lebih beruntung daripada meninggal. Luka ringan, lebih beruntung daripada luka parah, dan saya yang tidak tabrakan dan juga tidak terluka lebih beruntung dari teman saya yang tabrakan.

Paham Untungisme seperti cerita tadi seakan sudah menjadi paham tersendiri dalam budaya, khususnya budaya di Indonesia. Paham itu sepertinya mengajarkan sesuatu yang positif, bahwa sepertinya ada hikmah dibalik sebuah musibah. Jika seseorang mendapatkan musibah, dia diakatakan masih beruntung karena ada orang lain yang musibahnya lebih berat daripada dirinya. Tentunya dengan perkecualian kematian.

Gngl_wall2_800Beruntung juga punya musuh : SIAL. Dalam suatu kompetisi, misalnya sepakbola, keberuntungan selalu dikaitkan dengan kesialan. Tim yang menang terkadang dikatakan beruntung sedangkan yang kalah dikatakan sial. Kalau satu tim beruntung, yang lain pasti sial. Tidak mungkin ada 2 tim yang beruntung dalam pertandingan sepakbola. Tim yang menang-lah yang biasanya dihubungkan dengan keberuntungan, sedangkan tim yang kalah dihubungkan dengan kesialan. Terkecuali, tim yang kalah mengatakan bahwa mereka beruntung tidak kalah lebih banyak lagi. Ini keberuntungan yang timbul karena paham untungisme yaitu melihat adanya hal positif dibalik sebuah musibah.

Hidup juga adalah keberuntungan. Dulu saya tidak percaya kalau hidup ini perlu dan butuh keberuntungan. Dulu saya percaya usaha dan kerja keras pasti akan membuahkan hasil, tetapi setelah melalu berbagai peristiwa dalam kehidupan, saya percaya bahwa keberuntungan adalah salahBdonald satu adegan dalam drama kehidupan. Memang keberuntungan tidak bisa diprediksi. Keberuntungan juga tidak bisa dijadikan pegangan dan patokan dalam hidup. Tapi keberuntungan ada dan eksis dalam hidup.

Jika anda membaca tulisan ini, itu berarti anda juga sedang beruntung. Beruntung karena anda akhirnya tahu bahwa ada satu jenis kata yang enak untuk didengar, dan beruntung bahwa anda akhirnya menambah perbendaharaan kata-kata anda. Selamat Beruntung. I Believe in "Lucky".

Holy Blood, Holy Grail, dan “Holy Shit”

June 17th, 2006 by fertob

Holy_blood_holy_grailSekitar seminggu yang lalu saya selesai membaca buku Holy Blood, Holy Grail (edisi bahasa Indonesia) yang ditulis oleh Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln. Begitu terkesannya saya membacanya sehingga saya harus bolak-balik membaca indeks dan referensi buku yang dijadikan acuan, dan juga bolak-balik membaca buku-buku acuan yang selama ini saya miliki dan terlebih lagi membuka-buka internet dan sumber-sumber lain. Apa yang menarik dari buku itu ?

Dan Brown, yang menulis The Da Vinci Code mengatakan bahwa salah satu sumber berharga yang dipakainya dalam menulis buku larisnya itu adalah buku Holy Blood, Holy Grail (HBHG) karya Lincoln, dkk. Tentunya isi buku ini kurang lebih hampir sama dengan buku Da Vin Code. Tentunya tidak ada Michael Langdon dan Sophie Neveu yang dikejar-kejar polisi Perancis.

Isi buku HBHG memang berputar sekitar cerita dalam Da Vinci Code, seperti Biara Sion (Priory of Sion), Ksatria Templar, Dinasti Merovingian, Yesus, Maria Magdalena, dan lain-lain. Diceritakan tentang lika-liku Biara Sion yang dimulai dan didirikan oleh Penguasa Yerusalem pada saat Perang Salib I yaitu Godfroi de Boulion dan cerita-cerita lain yang mengikutinya.

Yang paling menggemparkan dari buku itu adalah pertanyaan-pertanyaan diseputar kehidupan Yesus, seperti apakah Yesus menikah dan punya anak, apakah Maria Magdalena adalah istri Yesus, apakah Yesus benar-beanr mati di kayu salib, apakah keturunan Yesus masih ada sampai sekarang, dan lain-lain. Pertanyaan-pertanyaan itu yang diiringi dengan jawaban yang didapat dari bentuk jurnalisme investigatif sangat menggugah dan mengundang minat.

Seperti pertanyaan : Apakah Yesus menikah ? Ini yang membuat kening sedikit berkerut. Asumsi awal yang dipakai oleh HBHG adalah Yesus adalah seorang Yahudi dan seorang Nabi dan juga Guru (Rabbi), sedangkan dalam hukum Yahudi, baik yang tertulis maupun tidak tertulis, bahwa adalah suatu keharusan bagi seseorang pemuda Yahudi untuk menikah jika telah menginjak usia akil balig. Dan juga ada hukum Yahudi yang tertulis yang mengatakan bahwa seorang baru bisa menjadi Rabbi (Guru) jika telah menikah. Dari perspektif ini, Yesus haruslah sudah menikah.

Di pihak lain, Alkitab dan sumber-sumber lain tidak secara eksplisit menyatakan bahwa Yesus menikah. Cerita Pernikahan di Kana (Yoh. 2:1-11) dikatakan adalah perkawinan Yesus sendiri. Sumber-sumber lain dari kitab Apokrifa (kitab-kitab yang dibuang) juga secara implisit menyatakan bahwa Yesus menikah. Lalu dikatakan juga bahwa istri Yesus adalah Maria Magdalena. Magdalena yang digambarkan dalam Alkitab sebagai perempuan yang meminyaki kaki Yesus dan ikut menyaksikan kematian Yesus di kayu salib, serta perempuan pertama yang datang di kubur Yesus, telah digambarkan secara salah oleh gereja selama ribuan tahun dengan menyatakannya sebagai Pelacur.

Jfkjesus1Magdalena menikah dengan Yesus dan mempunyai keturunan. Setelah kematian Yesus, Magdalena dengan disertai oleh pengikut Yesus melarikan diri ke Perancis bagian selatan (Gaul) yang telah lama dihuni oleh pemukim Yahudi. Disitulah keturunan Yesus menyebar, berketurunan dan mempunyai hubungan dengan Dinasti Merovingian yang menjadi Raja Franks pada abad ke-6 - 7 M. Holy Grail adalah simbolisasi dari keturunan Yesus dan bukanlah Piala Perjamuan jika diartikan secara harafiah.

Apakah cerita itu (dan cerita-cerita lain) benar ? Saya tidak tahu. Tetapi Lincoln, dkk menggunakan cara pengungkapan fakta yang cukup kuat. Mereka menggunakan berbagai macam bukti dan fakta dari tulisan-tulisan dan dokumen-dokumen abad pertengahan serta berburu informasi ke sumber-sumber sejarawan maupun pelaku peristiwa yang dapat dipercaya. Kelemahan terbesar mereka justru di salah satu pernyataan mereka : "Alkitab (perjanjian baru) adalah buku yang telah diubah, diganti, dan diedit ulang sesuai dengan kebutuhan pihak gereja saat itu, sehingga Alkitab tidak lagi menjadi sumber yang terpercaya dalam mengungkapkan cerita dibalik kehidupan Yesus".

Hal itu tidak menjadi masalah jikalau Alkitab dianggap sebagai buku sejarah. Tetapi buku sejarah (apapun itu) adalah buku persepsi dari siapa yang menuliskannya. Isi dari buku sejarah adalah FAKTA dan INTERPRETASI. Sepanjaang fakta disesuaikan dengan interpretasi maka sebuah buku sejarah tidak akan pernah menggambarkan situasi yang sebenarnya. Kesalahan lainnya adalah, jika Alkitab dikatakan tidak lagi merupakan sumber terpercaya, mereka tetap menggunakan ayat-ayat dari dalam Alkitab sebagai bukti penunjang teori mereka. Sebuah buku yang tidak terpercaya sebagai sumber haruslah disingkirkan dari referensi teori yang akan dibangun. Jikalau masih tetap dipakai sebagai sumber, tentunya seorang peneliti harus mempunyai patokan dan ukuran yang jelas akan batas-batas ketidakpercayaan mereka terhadap suatu sumber, dan apa yang terpercaya dan apa yang tidak terpercaya dari suatu sumber sehingga mereka masih bisa mempertanggungjawabkan bukti dari suatu sumber yang mereka katakan sendiri tidak terpercaya.

Kekuatan buku ini adalah mereka tidak mengambil kesimpulan tetapi mengatakan adanya suatu hipotesa. Bahwa hipotesa itu belum teruji benar dan masih dikaitkan dalam hubungan yang belum kuat adalah masalah lain, dan juga sumber dari kekurangan bagi siapapun yang meneliti tentang sejarah Yesus.

Apakah hipotesa dalam buku HBHG mempengaruhi iman seseorang (orang Kristen, khususnya) ?  Bagi saya tidak menjadi masalah. Pembuktian sejarah berada di posisi berseberangan dengan posisi iman. Pembuktian bahwa Yesus menikah dan mempunyai anak tidak menafikan iman orang Kristen. Tentunya perlu perspektif lain dalam memandang masalah ini. Tidak ada yang ditakuti dalam buku ini, dan reaksi berlebihan dari pihak gereja dan agamis justru membuat fakta yang telah ada menjadi terdistorsi.

Holy_shitSaya hanya bisa berucap "Holy Shit" yang bisa diartikan SIALAN. Bukan karena saya terpengaruh atau berubah keimanan karena buku ini, tetapi karena begitu banyak hal-hal dari keimanan saya yang tidak saya ketahui. Setelah saya mengetahuinya, saya juga berkata "Holy Shit", karena mungkin ada hal-hal lain yang perlu saya ketahui menyangkut segala sesuatu terutama keimanan saya. Holy Shit….

Perang telah Dimulai…

June 14th, 2006 by fertob

295
1950, Stadion Maracana, Rio de Jenairo, Brazil
: Ratusan ribu pendukung Brazil terperangah tak percaya ketika pemain Uruguay, Ghiggia mencetak gol hanya 11 menit sebelum pertandingan usai yang membuat kedudukan menjadi 2-1 untuk kemenangan Uruguay. Brazil akhirnya takluk di kandang sendiri dan membuat Uruguay menggondol Piala Dunia untuk ke-2 kalinya.

1966, Stadion Wembley, London, Inggris : Gol "setengah masuk" Geoff Hurst pada menit 101 masa perpanjangan waktu membuat skor menjadi 3-2 pada final Piala Dunia 1966 antara Inggris melawan Jerman Barat. Gol ini diprotes oleh pemain Jerman Barat yang menganggap bola belum seluruhnya masuk ke dalam gawang. Tetapi wasit Gottfried Dienst asal Swiss tetap mengesahkan gol tersebut. Hurst sendiri akhirnya mencetak gol ketiganya (hattrick) di menit ke 120 sehingga membuat Inggris menang 4-2 dan berhak menyabet Piala Dunia untuk pertama kalinya.

70
1970, Stadion Azteca, Mexico City, Mexico
: Pele menutup penampilan ke-4 beruntunnya di Piala Dunia dengan mencetak gol pertama Brazil di menit ke-18. Penampilan gemilang pemain terbesar sepanjang sejarah sepakbola menurut versi FIFA ini membuatnya menjadi pemain yang mencetak gol di final Piala Dunia sebanyak 3 kali. Brazil akhirnya menambah gol melalui Jairzinho, Gerson dan Pareira sehingga mereka total unggul 4-1 dan meraih Trophi Jules Rimet Cup. Brazil juga akhirnya memboyong trophi ini ke negaranya selama-lamanya karena menjadi negara pertama yang telah 3 kali menjadi juara Piala Dunia.

1982, Stadion Santiago Bernebau, Madrid, Spanyol : Seorang mantan terdakwa doping sepakbola asal Italia, Paolo Rossi menjadi pahlawan bagi negaranya. Di final Piala Dunia 1982 melawan Jerman Barat, Rossi, yang sebelumnya sempat diskorsing selama 1 tahun akibat kasus doping, mencetak 2 gol kemenangan Italia sehingga skor menjadi 3-1 dan membuat Italia merebut trophi Piala Dunia untuk ketiga kalinya. Pemanggilan Rossi ke skuad piala dunia Italia sebelumnya sempat menimbulkan pro-kontra bagi warga Italia. Tetapi pelatih tim nasional Italia, Enzo Bearzot tetap memasukkan nama Rossi dalam daftar pemainnya.
Maradonatanrinineli_2

1990, Stadion Olimpico, Roma, Italia : Final "terburuk" sepanjang sejarah piala dunia. 2 kartu

merah yang diberikan wasit Edgardo Mendez kepada pemain Argentina (Monzon dan Dezotti) dan gol pinalti Andreas Brehme di menit 85 membuyarkan ambisi Diego Maradona untuk meraih trophi Piala Dunia. Sebaliknya Jerman Barat yang ditukangi mantan bintang tahun 1970-an Franz Beckenbauer meraih Piala Dunia untuk yang ke-3 kalinya setelah tahun 1954 dan 1974. Tangisan Maradona setelah pertandingan usai menjadi saksi tragis buruknya final Piala Dunia kali ini.

2510248267
1998, Stadion Stade de France, Paris, Perancis
: Isu "kesurupan" yang menimpa Ronaldo beberapa jam sebelum final dilaksanakan menjadi mimpi buruk bagi tim Brazil. Di final mereka dipermalukan tuan rumah Perancis, 3-0 tanpa balas. Bintang final kali ini adalah Zinedine Zidane, maestro sepakbola Perancis setelah jaman Michael Platini usai. Dua golnya di partai final mempertegas pengukuhannya sebagai pemain terbaik dunia saat itu. Walaupun Perancis harus bermain dengan 10 orang setelah Marcell Desailly dikeluarkan wasit Said Belqola di menit ke-68 tidak membuat Perancis menjadi berkurang. Akhirnya mereka merebut trophy Piala Dunia untuk pertama kalinya sepanjang keikutsertaannya di ajang piala dunia justru di kandang sendiri.

576077673
2006, Stadion Olympiastadion, Berlin, Jerman
: ?

Dan perang itu telah dimulai. 32 negara dari berbagai benua dan konfederasi mengikuti ajang terakbar olahraga terpopuler di planet ini. Selamat datang di realitas sepakbola. Untuk informasi silakan klik http://fifaworldcup.com

Apakah Saya P(a/o)rno ?

June 6th, 2006 by fertob

Poster_lg02
Menonton film "In the Cut" yg dibintangi oleh Meg Ryan dan Mark Buffalo, ada beberapa hal yang menjadi berkesan dalam hati. Pertama, filmnya bercerita tentang feminisme ala barat dimana perempuan ditampilkan lengkap dengan dinamikanya, emosinya, hasratnya, dan semua aspek-aspeknya. Kedua (dan yang paling bikin penasaran), film ini mengumbar (maafkan pemilihan kata saya) adegan-adegan seks. Sudah jelas film ini harus ditonton oleh orang-orang yang berpredikat "D" di kepalanya, karena banyak orang-orang yang sudah dewasa fisik alias diatas 17 tahun tapi belum "D".

Soal feminisme tidak perlu diperbincangkan. Tapi soal seks dan pengumbaran seks (sorry…!!)

selalu enak dan asik untuk diperbincangkan, apalagi sambil dibayangkan. Terus terang, menonton film itu saya tidak terangsang apalagi membayangkan yang tidak-tidak. Karena dalam kepala saya, jika saya menonton film dengan suatu tujuan, maka tujuan lain dapat dialihkan alias tidak diperhatikan. Ini berlaku untuk semua media, bahwa segala sesuatu yang merangsang selalu hadir dan ada di kepala orang yang melihat media itu. Jika dalam kepala pemirsa tidak ada hal-hal yang menimbulkan rangsangan, maka bisa jadi film yg bertema "bokep" pun tidak akan merangsang. Tapi apabila di dalam kepala sudah ada hal-hal yang merangsang, maka film film perang-pun bisa membuat merangsang. Nah lo…

Dari dulu kita selalu takut akan segala sesuatu yang bernama "SEKS". Bahkan seks pada suatu masaSeks9_2
seks dianggap menjijikkan dan tabu. Hal itu masih berlangsung sampai sekarang. Segala sesuatu kita lakukan agar terhindar dari DOSA yang bernama SEKS. Akibatnya bisa runyam, begitu kata nenek dulu. Seks ditutup-tutupi, dilarang-larang, bahkan mungkin dulu pernah seks dianggap bahaya laten, seperti kita memperlakukan komunisme. Tapi walaupun demikian, seks selalu enak dibicarakan, karena memang segala sesuatu yang berbau seks pasti mengundang perasaan ingin tahu. Seperti kata istilah, pagar dibuat bukan untuk menghalangi tapi untuk dilompati.

Tapi mengapa kita harus selalu takut akan seks. Sekali lagi jawabannya cuma satu : akibatnya. Tapi, apakah kita tidak bisa mengendalikannya sehingga harus takut pada akibatnya ? Itulah masalahnya. Seks sebenarnya bisa dikendalikan dan diinstitusikan (bahasa kerennya). Seks selalu melibatkan sesuatu yang menyenangkan. Di dalam seks biasanya selalu ada dua unsur. Satu, Prokreasi, yaitu untuk meneruskan keturunan; dan dua, Rekreasi, yaiktu untuk  kesenangan manusia.  Jadi dimana  aspek yang membuat seks menjadi bahaya laten ? Sebenarnya tidak ada, tapi menjadi ada karena, kembali lagi,  segala sesuatu yang porno, cabul, dan merangsang hanya ada di kepala seseorang. Ini sama seperti kita takut berjalan di malam hari karena kita selalu membayangkan hal-hal yang menakutkan.

Lalu kita menjadi parno alias paranoid membicarakan, apalagi menampilkan, seks yang menurut kita porno. Lalu kita mereduksi semua hal-hal yang menurut kepala kita porno. Lalu kita melarang dan membredel media-media yang menampilkan hal-hal yang menurut kepala kita porno. Lalu kita membuat aturan-aturan tentang hal-hal yang menurut kepala kita porno. Dan lalu kita kembali ke jaman model Victoria ketika seks, sesuai jamannya, memang amat sangat tabu dan menjijikkan.

Paranoid_1
Lalu ? Lalu kitapun sulit membedakan apakah seks dari sananya memang porno, ataukah otak kita yang parno sehingga membuat seks jadi ikut-ikutan menjadi sarana ke-paranoid-an kita. Seperti kata pepatah : buruk rupa cermin dibelah. Apa yang salah dengan seks ? Tidak ada. Seks menjadi salah ketika dia disimpangkan, baik secara sengaja oleh orang yang bertujuan menyimpangkannya atau oleh "orang biasa" yang di dalam kepalanya penuh dengan seks yang parno.

Tulisan ini tidak bertujuan menentang atau mendukung RUU APP dan pembredelan majalah Playboy Indonesia, atau hal-hal lainnya. Saya yakin orang parno-pun punya akal sehat dan hati nurani.