Archive for March, 2006

Mengapa Marlboro ?

Wednesday, March 29th, 2006

Rokok3Beberapa bulan yang lalu saya mendengar kabar kalau  saham PT Sampoerna Tbk dibeli oleh  Phillip Morris (PM), sang pengedar Marlboro, sehingga PM kini jadi pemilik saham mayoritas di salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia itu. Saya bukan penggemar rokok Sampoerna sampai harus unjuk rasa menentang pembelian saham itu, tapi jadi heran, mimpi apa PM sampai mau membeli saham di Sampoerna ?

Ada yang bilang kalau penjualan rokok Marlboro mengalami penurunan signifikan di kawasan Eropa dan Amerika, sampai-sampai PM rela merogoh kocek untuk melebarkan sayap perusahaannya di Asia. Karena Asia masih mempunyai pasar yang "menantang". Tapi mengapa Sampoerna ? Mungkin ini pilihan strategis. Kita maklum kalau Samperna (rokok) adalah andalan utama grup Sampoerna dalam hal pendapatan, lalu mengapa mereka rela melepas divisi bisnis yang menjanjikan ini ?

Saya tidak mau berandai andai, tapi mungkin yang penggemar Sampoerna (Mild, Dji Sam Soe, dll) akan protes. Mereka tidak sudi rokok kesayangannya dicampuri "rasa" Amerika ala Marlboro. Tak terbayang dalam pikiran saya kalau rokok jenis mild diberi "sentuhan" Marlboro. Lebih tak terbayang lagi kalau rokok kretek (yang katanya sudah dilarang di luar negeri) diberi "sentuhan" ala Marlboro. Rasa apa jadinya ?

RokokDan saya pun tak sudi kalau rokok Marlboro (yang saya sukai) akhirnya diberikan rasa tembakau jawa gaya Sampoerna. Kita sudah terbiasa dengan teman atau kenalan yang berbeda latar belakang, tapi soal rasa (apalagi rasa rokok), tak ada istilah pencampuran rasa. Jika sudah fanatik dengan satu rasa, rasanya tak akan bisa pindah ke lain rasa (beda dengan ke lain hati). Memang selama ini belum terasa aroma Sampoerna untuk tiap batang Marlboro yang saya hisap, tapi untuk prospek ke depannya, siapa yang tahu…

Akhir kata, berjuta maaf untuk anda yang membaca blog ini tapi bukan perokok. Percayalah kalau anda belum tentu lebih sehat dari kami para perokok.

Sejenak Merenung tentang Moralitas

Tuesday, March 21st, 2006

Langvoiceofmorality
Tak pernah terbayang jika manusia tidak mempuanyai moral, tapi lebih tak terbayang lagi jika manusia tidak punya hati nurani. Moralitas lebih mengatur pada apa yang baik dan yang tidak baik. Dia hanya menyentuh sisi terluar dari kehidupan dan tingkah laku manusia. Kita bisa membuat banyak sinonimnya: norma, nilai, etika, tatanan, dll. Tapi hati nurani menyentuh sisi terdalam dari batin manusia, karena dia berbicara tentang apa yang benar dan yang salah.

Orang mungkin mengatakan bahwa moralitas adalah pengejawantahan dari hati nurani manusia. Tidak sepenuhnya salah dan juga tidak sepenuhnya benar. Hati nurani tak pernah terindera dan hanya bisa terasa. Moralitas teraplikasi dalam kehidupan. Tetapi perbedaan utamanya adalah bahwa moralitas adalah hati nurani yang telah terselubungi dan tercampur dengan topeng (mask). Manusia memakai topeng dalam perbuatan dan tingkah lakunya. Tidak semua moralitas dalam diri (hati nurani) bisa diaplikasikan dengan mudah pada dunia luar. Manusia selalu menampilkan apa yang selalu menyenangkan dan apa yang berwujud kebaikan ke dunia luar. Dan inilah peran topeng itu.

Ketika moralitas dijadikan sandaran suatu komunitas dan dijadikan pegangan hidupnya, selalu saja ada perbenturan dengan komunitas yang lain. Ini karena moralitas suatu kelompok tidak pernah sama dengan moralitas kelompok lain. Apa yang membedakannya ? Topeng. Topeng itu bisa berbentuk apa saja, bisa agama, budaya, nilai sosial, pendidikan, gaya hidup, dan lain-lain. Itulah yang membuat suatu moralitas berada dalam sisi relatif, bukan relatif dalam arti tidak ada patokan bersama tentang nilai kebaikan, tetapi relatif dalam arti "adanya topeng yang berbeda antara tiap individu dan antara tiap komunitas".

Untuk komunitas yang lebih homogen (walaupun tidak 100% homogen), lebih mudah mudah mengaplikasikan suatu moralitas tertentu, karena topeng yang dipakai oleh anggota komunitas itu tidak jauh berbeda. Moralitas jenis ini dapat dengan mudah kita jumpai di suatu komunitas yang sama secara agama, budaya, pendidikan, nilai sosial, dll. Misalnya saja kelompok yang mengaplikasikan peraturan-peraturan agama sebagai tatanan nilai dalam kelompoknya.

529csarofmorality
Tapi moralitas jenis itu akan menemui kesulitan ketika berhadapan dengan komunitas yang lebih majemuk. Apa yang membuatnya sulit ? Sekali lagi Topeng. Topeng yang berbeda dikenakan oleh orang dan kelompok yang berbeda akan menghasilkan nilai dan norma (moralitas) yang berbeda. Paksaan moralitas berupa keseragaman justru hanya menghasilkan konflik. Nilai yang berbeda tidak bisa dipaksakan seragam. Aturan-aturan yang melandasi kehidupan suatu komunitas besar yang heterogen adalah nilai bersama yang diadopsi dari masing-masing moralitas tiap kelompok dalam komunitas itu. Bahkan moralitas terkadang tidak boleh dijadikan suatu landasan hukum positif dalam komunitas itu. Karena mengundangkan suatu aturan yang berbasis moralitas tertentu akan menghadapi resistensi dari kelompok lain yang merasa tidak bisa menerima moralitas tersebut.

Adalah suatu hal yang teramat absurd kalau memaksakan suatu jenis moralitas tertentu yang berbasis pada suatu topeng tertentu pada kehidupan suatu komunitas yang heterogen.

Crash dan Kemenangan atas Intolerance

Wednesday, March 8th, 2006

Crashposter1
Ada yang menarik dari pagelaran Academy Award 6 Maret yang lalu. Salah satunya adalah keberhasilan film Crash meraih Oscar untuk kategori Best Picture. Film yang disutradarai oleh Paul Haggis ini berhasil mengalahkan saingan terberatnya, film karya sutradara asal Taiwan Ang Lee, Brokeback Mountain. Kekalahan Brokeback Mountain, menurut jurnalis Washington Post, karena orang Amerika tidak suka koboi-koboinya homoseksual. Tapi mengapa Crah ?

Tema utama dari film Crash adalah kerusuhan rasial yang berlatar belakang kota Los Angeles, AS pasca peristiwa 9/11. Ceritanya sendiri adalah fiksi. Pemeran dalam film ini berlatar belakang etnis dan ras yang berbeda. Ada pemilik toko yang beretnis Persia, pasangan suami istri orang Korea, pembuat peralatan kunci asal Meksiko, seorang direktur televisi berkulit hitam dan istrinya, dll. Ceritanya adalah adanya kerusuhan rasial yang melanda kota Los Angeles yang menyebabkan  timbulnya huru-hara dan kerusakan dimana-mana. Pada akhirnya, kerusuhan itu tidak memandang lagi siapa yang menjadi sasarannya. Asalkan anda berbeda dari kami, maka anda adalah musuh.

Film ini menggambarkan bahwa rasisme, intolerance, dan diskriminasi sebenarnya masih ada dalam benak setiap orang. Lalu pertanyaan itu timbul sekali lagi, mengapa Crash ?

Crash5
Crash mengingatkan kita akan dunia ini yang seakan-akan sudah terbelah-belah dalam kutub antara "kami" dan "kamu". Kami adalah orang-orang yang sama dalam segala hal, kami adalah manusia unggul dan selalu benar, dan kami adalah baik. Sedangkan kamu adalah orang-orang yang berbeda, kamu adalah rendah, kamu adalah musuh dan setan, dan kamu adalah salah. Pengkutuban ini karena adalnya PERBEDAAN antara kami dan kamu. Perbedaan etnis, ras, agama, ideologi, golongan, dan lain-lain.

Secara hakikat manusia itu berbeda, bahkan diantara 2 anak kembarpun pasti banyak perbedaan. Tetapi perbedaan yang timbul karena hakikat manusia ini dijadikan sebagai sarana untuk menyakiti dan menyalahkan orang lain yang berbeda dengan kita. Contohnya saja, perbedaan timur dan barat dalam perspektif sosial. Orang Barat adalah orang dengan sifat-sifat dan ciri-ciri tertentu, begitupula dengan orang Timur. Lalu timbul prasangka bahwa orang lain lebih rendah dari kita, dan bahwa kita adalah segalanya.

Sejarah dunia dapat dijadikan referensi bagi pengkotakan kelas berdasarkan perbedaan yang justru menimbulkan pembantaian dan perang. Misalnya, pembantaian bangsa Yahudi pada jaman Nazi Hitler, pembantaian etnis Bosnia, perang di Rwanda, pembantaian bangsa Indian Aztec dan Inca, dan di Indonesia dengan pembantaian pendukung PKI tahun 1960-an. Apa alasan perang dan pembantaian itu ? PERBEDAAN. Perbedaan dilanggengkan dan diagungkan serta dijadikan alat ideologi untuk memerangi dan membunuh orang yang berbeda.

Lalu untuk apa perbedaan itu ada jika hanya dijadikan alat untuk membunuh ? Disinilah TOLERANSI berada. Perbedaan idealnya disikapi dengan toleransi dan bukan dengan pembunuhan. Toleransi sepertinya menjadi kata kunci ketika sikap-sikap intolerance menjadi landasan berpikir dewasa ini. Dan landasan berpikir yang mengutamakan perbedaan dan intoleransi sama saja dengan mengutamakan kepunahan manusia karena kebodohannya sendiri.

Crash9_1
Inilah yang membuat film Crash menjadi tema utama bagi Kemenangan atas Intoleransi dan Diskriminasi. Tema yang justru sepertinya menjadi cambuk bagi AS karena kebijakan-kebijakannya yang cenderung tidak toleran. Dan juga cambuk bagi setiap manusia yang hidup dalam perbedaan.

Seperti yang dikatakan oleh Paul Haggis dalam pemberian hadiah Oscar : "Seni bukanlah hanya cermin yang merefleksikan dan memantulkan, seni adalah palu yang membentuk".

Crash