My Photo

May 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

« Duka Cita Untuk Jogja & Jateng | Main | Perang telah Dimulai... »

Apakah Saya P(a/o)rno ?

Poster_lg02 Menonton film "In the Cut" yg dibintangi oleh Meg Ryan dan Mark Buffalo, ada beberapa hal yang menjadi berkesan dalam hati. Pertama, filmnya bercerita tentang feminisme ala barat dimana perempuan ditampilkan lengkap dengan dinamikanya, emosinya, hasratnya, dan semua aspek-aspeknya. Kedua (dan yang paling bikin penasaran), film ini mengumbar (maafkan pemilihan kata saya) adegan-adegan seks. Sudah jelas film ini harus ditonton oleh orang-orang yang berpredikat "D" di kepalanya, karena banyak orang-orang yang sudah dewasa fisik alias diatas 17 tahun tapi belum "D".

Soal feminisme tidak perlu diperbincangkan. Tapi soal seks dan pengumbaran seks (sorry...!!) selalu enak dan asik untuk diperbincangkan, apalagi sambil dibayangkan. Terus terang, menonton film itu saya tidak terangsang apalagi membayangkan yang tidak-tidak. Karena dalam kepala saya, jika saya menonton film dengan suatu tujuan, maka tujuan lain dapat dialihkan alias tidak diperhatikan. Ini berlaku untuk semua media, bahwa segala sesuatu yang merangsang selalu hadir dan ada di kepala orang yang melihat media itu. Jika dalam kepala pemirsa tidak ada hal-hal yang menimbulkan rangsangan, maka bisa jadi film yg bertema "bokep" pun tidak akan merangsang. Tapi apabila di dalam kepala sudah ada hal-hal yang merangsang, maka film film perang-pun bisa membuat merangsang. Nah lo...

Dari dulu kita selalu takut akan segala sesuatu yang bernama "SEKS". Bahkan seks pada suatu masaSeks9_2 seks dianggap menjijikkan dan tabu. Hal itu masih berlangsung sampai sekarang. Segala sesuatu kita lakukan agar terhindar dari DOSA yang bernama SEKS. Akibatnya bisa runyam, begitu kata nenek dulu. Seks ditutup-tutupi, dilarang-larang, bahkan mungkin dulu pernah seks dianggap bahaya laten, seperti kita memperlakukan komunisme. Tapi walaupun demikian, seks selalu enak dibicarakan, karena memang segala sesuatu yang berbau seks pasti mengundang perasaan ingin tahu. Seperti kata istilah, pagar dibuat bukan untuk menghalangi tapi untuk dilompati.

Tapi mengapa kita harus selalu takut akan seks. Sekali lagi jawabannya cuma satu : akibatnya. Tapi, apakah kita tidak bisa mengendalikannya sehingga harus takut pada akibatnya ? Itulah masalahnya. Seks sebenarnya bisa dikendalikan dan diinstitusikan (bahasa kerennya). Seks selalu melibatkan sesuatu yang menyenangkan. Di dalam seks biasanya selalu ada dua unsur. Satu, Prokreasi, yaitu untuk meneruskan keturunan; dan dua, Rekreasi, yaiktu untuk  kesenangan manusia.  Jadi dimana  aspek yang membuat seks menjadi bahaya laten ? Sebenarnya tidak ada, tapi menjadi ada karena, kembali lagi,  segala sesuatu yang porno, cabul, dan merangsang hanya ada di kepala seseorang. Ini sama seperti kita takut berjalan di malam hari karena kita selalu membayangkan hal-hal yang menakutkan.

Lalu kita menjadi parno alias paranoid membicarakan, apalagi menampilkan, seks yang menurut kita porno. Lalu kita mereduksi semua hal-hal yang menurut kepala kita porno. Lalu kita melarang dan membredel media-media yang menampilkan hal-hal yang menurut kepala kita porno. Lalu kita membuat aturan-aturan tentang hal-hal yang menurut kepala kita porno. Dan lalu kita kembali ke jaman model Victoria ketika seks, sesuai jamannya, memang amat sangat tabu dan menjijikkan.

Paranoid_1 Lalu ? Lalu kitapun sulit membedakan apakah seks dari sananya memang porno, ataukah otak kita yang parno sehingga membuat seks jadi ikut-ikutan menjadi sarana ke-paranoid-an kita. Seperti kata pepatah : buruk rupa cermin dibelah. Apa yang salah dengan seks ? Tidak ada. Seks menjadi salah ketika dia disimpangkan, baik secara sengaja oleh orang yang bertujuan menyimpangkannya atau oleh "orang biasa" yang di dalam kepalanya penuh dengan seks yang parno.

Tulisan ini tidak bertujuan menentang atau mendukung RUU APP dan pembredelan majalah Playboy Indonesia, atau hal-hal lainnya. Saya yakin orang parno-pun punya akal sehat dan hati nurani.

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .