Holy Blood, Holy Grail, dan “Holy Shit”
Sekitar seminggu yang lalu saya selesai membaca buku Holy Blood, Holy Grail (edisi bahasa Indonesia) yang ditulis oleh Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln. Begitu terkesannya saya membacanya sehingga saya harus bolak-balik membaca indeks dan referensi buku yang dijadikan acuan, dan juga bolak-balik membaca buku-buku acuan yang selama ini saya miliki dan terlebih lagi membuka-buka internet dan sumber-sumber lain. Apa yang menarik dari buku itu ?
Dan Brown, yang menulis The Da Vinci Code mengatakan bahwa salah satu sumber berharga yang dipakainya dalam menulis buku larisnya itu adalah buku Holy Blood, Holy Grail (HBHG) karya Lincoln, dkk. Tentunya isi buku ini kurang lebih hampir sama dengan buku Da Vin Code. Tentunya tidak ada Michael Langdon dan Sophie Neveu yang dikejar-kejar polisi Perancis.
Isi buku HBHG memang berputar sekitar cerita dalam Da Vinci Code, seperti Biara Sion (Priory of Sion), Ksatria Templar, Dinasti Merovingian, Yesus, Maria Magdalena, dan lain-lain. Diceritakan tentang lika-liku Biara Sion yang dimulai dan didirikan oleh Penguasa Yerusalem pada saat Perang Salib I yaitu Godfroi de Boulion dan cerita-cerita lain yang mengikutinya.
Yang paling menggemparkan dari buku itu adalah pertanyaan-pertanyaan diseputar kehidupan Yesus, seperti apakah Yesus menikah dan punya anak, apakah Maria Magdalena adalah istri Yesus, apakah Yesus benar-beanr mati di kayu salib, apakah keturunan Yesus masih ada sampai sekarang, dan lain-lain. Pertanyaan-pertanyaan itu yang diiringi dengan jawaban yang didapat dari bentuk jurnalisme investigatif sangat menggugah dan mengundang minat.
Seperti pertanyaan : Apakah Yesus menikah ? Ini yang membuat kening sedikit berkerut. Asumsi awal yang dipakai oleh HBHG adalah Yesus adalah seorang Yahudi dan seorang Nabi dan juga Guru (Rabbi), sedangkan dalam hukum Yahudi, baik yang tertulis maupun tidak tertulis, bahwa adalah suatu keharusan bagi seseorang pemuda Yahudi untuk menikah jika telah menginjak usia akil balig. Dan juga ada hukum Yahudi yang tertulis yang mengatakan bahwa seorang baru bisa menjadi Rabbi (Guru) jika telah menikah. Dari perspektif ini, Yesus haruslah sudah menikah.
Di pihak lain, Alkitab dan sumber-sumber lain tidak secara eksplisit menyatakan bahwa Yesus menikah. Cerita Pernikahan di Kana (Yoh. 2:1-11) dikatakan adalah perkawinan Yesus sendiri. Sumber-sumber lain dari kitab Apokrifa (kitab-kitab yang dibuang) juga secara implisit menyatakan bahwa Yesus menikah. Lalu dikatakan juga bahwa istri Yesus adalah Maria Magdalena. Magdalena yang digambarkan dalam Alkitab sebagai perempuan yang meminyaki kaki Yesus dan ikut menyaksikan kematian Yesus di kayu salib, serta perempuan pertama yang datang di kubur Yesus, telah digambarkan secara salah oleh gereja selama ribuan tahun dengan menyatakannya sebagai Pelacur.
Magdalena menikah dengan Yesus dan mempunyai keturunan. Setelah kematian Yesus, Magdalena dengan disertai oleh pengikut Yesus melarikan diri ke Perancis bagian selatan (Gaul) yang telah lama dihuni oleh pemukim Yahudi. Disitulah keturunan Yesus menyebar, berketurunan dan mempunyai hubungan dengan Dinasti Merovingian yang menjadi Raja Franks pada abad ke-6 - 7 M. Holy Grail adalah simbolisasi dari keturunan Yesus dan bukanlah Piala Perjamuan jika diartikan secara harafiah.
Apakah cerita itu (dan cerita-cerita lain) benar ? Saya tidak tahu. Tetapi Lincoln, dkk menggunakan cara pengungkapan fakta yang cukup kuat. Mereka menggunakan berbagai macam bukti dan fakta dari tulisan-tulisan dan dokumen-dokumen abad pertengahan serta berburu informasi ke sumber-sumber sejarawan maupun pelaku peristiwa yang dapat dipercaya. Kelemahan terbesar mereka justru di salah satu pernyataan mereka : "Alkitab (perjanjian baru) adalah buku yang telah diubah, diganti, dan diedit ulang sesuai dengan kebutuhan pihak gereja saat itu, sehingga Alkitab tidak lagi menjadi sumber yang terpercaya dalam mengungkapkan cerita dibalik kehidupan Yesus".
Hal itu tidak menjadi masalah jikalau Alkitab dianggap sebagai buku sejarah. Tetapi buku sejarah (apapun itu) adalah buku persepsi dari siapa yang menuliskannya. Isi dari buku sejarah adalah FAKTA dan INTERPRETASI. Sepanjaang fakta disesuaikan dengan interpretasi maka sebuah buku sejarah tidak akan pernah menggambarkan situasi yang sebenarnya. Kesalahan lainnya adalah, jika Alkitab dikatakan tidak lagi merupakan sumber terpercaya, mereka tetap menggunakan ayat-ayat dari dalam Alkitab sebagai bukti penunjang teori mereka. Sebuah buku yang tidak terpercaya sebagai sumber haruslah disingkirkan dari referensi teori yang akan dibangun. Jikalau masih tetap dipakai sebagai sumber, tentunya seorang peneliti harus mempunyai patokan dan ukuran yang jelas akan batas-batas ketidakpercayaan mereka terhadap suatu sumber, dan apa yang terpercaya dan apa yang tidak terpercaya dari suatu sumber sehingga mereka masih bisa mempertanggungjawabkan bukti dari suatu sumber yang mereka katakan sendiri tidak terpercaya.
Kekuatan buku ini adalah mereka tidak mengambil kesimpulan tetapi mengatakan adanya suatu hipotesa. Bahwa hipotesa itu belum teruji benar dan masih dikaitkan dalam hubungan yang belum kuat adalah masalah lain, dan juga sumber dari kekurangan bagi siapapun yang meneliti tentang sejarah Yesus.
Apakah hipotesa dalam buku HBHG mempengaruhi iman seseorang (orang Kristen, khususnya) ? Bagi saya tidak menjadi masalah. Pembuktian sejarah berada di posisi berseberangan dengan posisi iman. Pembuktian bahwa Yesus menikah dan mempunyai anak tidak menafikan iman orang Kristen. Tentunya perlu perspektif lain dalam memandang masalah ini. Tidak ada yang ditakuti dalam buku ini, dan reaksi berlebihan dari pihak gereja dan agamis justru membuat fakta yang telah ada menjadi terdistorsi.
Saya hanya bisa berucap "Holy Shit" yang bisa diartikan SIALAN. Bukan karena saya terpengaruh atau berubah keimanan karena buku ini, tetapi karena begitu banyak hal-hal dari keimanan saya yang tidak saya ketahui. Setelah saya mengetahuinya, saya juga berkata "Holy Shit", karena mungkin ada hal-hal lain yang perlu saya ketahui menyangkut segala sesuatu terutama keimanan saya. Holy Shit….
June 29th, 2006 at 8:50 am
Holy Fu*k!
July 1st, 2006 at 10:06 pm
Kepercayaan saya bahwa Yesus itu menikah sama besarnya dengan kepercayaan saya bahwa Yesus itu tidak menikah. Tapi saya belum menemukan buktinya, bukan begitu?
July 3rd, 2006 at 7:41 am
idealnya dan seharusnya Yesus menikah, tapi kalau bukti tidak mendukung, kita hanya bisa berhipotesa dan berspekulasi.
July 4th, 2006 at 8:18 pm
makanya kita bisa berkata holy shittttt!! hehehe
August 16th, 2006 at 11:00 pm
Referensi yang kita temui untuk mengambil kesimpulan apakah Yesus menikah atau tidak, terlalu sedikit. Hanya dari buku2 yang sudah terbit, tidak akan cukup untuk membuat suatu kesimpulan.