I Believe in “Lucky”
Sejak kecil saya paling senang membaca, terutama komik ala Disneyland. Dan salah satu komik yang saya sukai adalah serial komik Donald Bebek. Donald adalah tokoh utama dari komik ini yang digambarkan selalu mendapat kesialan dan ketidakberuntungan, sedangkan Untung adalah tetangga Donald yang digambarkan selalu beruntung, bahkan jika tidak sedang berbuat apapun, dia selalu beruntung. Untung adalah gambaran orang beruntung, sedangkan Donald adalah gambaran orang sial. Dikotomis dan simple, tapi disitulah salah satu letak kelucuan komik ini.
Kita seringkali mendengar kata Beruntung dalam perbendaharaan bahasa setiap hari. Beruntung biasanya selalu dikonotasikan positif, bahwa kita mendapatkan sesuatu yang tidak terduga-duga atau kita berada pada suatu situasi dimana kita diberikan kemudahan, dan semuanya itu diluar perkiraan kita. Tapi apakah selalu begitu ?
Seorang teman saya pernah mengalami kecelakaan tabrakan mobil tetapi dia hanya luka lecet, sedangkan orang dalam mobil yang menabraknya luka parah. Apa kata dia setelah kecelakaan itu ? "Untung saya nggak luka parah seperti orang itu". Dia hanya lecet di tangan, sedangkan orang lain luka parah di kepala, dan dia mengatakan dia beruntung: untung saya cuma luka ringan. Benarkah dia beruntung ? Tentu saja dia tidak beruntung, karena yang pasti dia tidak beruntung karena tabrakan itu. Ketidakberuntungannya bisa dilihat disini: mobilnya rusak parah dan butuh perbaikan dan juga butuh uang, dia juga harus berobat ke rumah sakit, urusan dengan polisi, dlsb, dlsb. Tetapi kalau dilihat dari jenis lukanya yang hanya berupa lecet di tanah dibandingkan dengan orang lain yang terluka parah, dia dikatakan beruntung. Orang yang terluka parah-pun akan dikatakan beruntung karena tidak meninggal, dan saya yang mendengar ceritanya akan mengatakan bahwa saya juga beruntung karena bukan saya yang tabrakan.
Beruntung dalam kasus diatas selalu dikaitkan dengan tingkat kesulitan/kemudahan yang kita bandingkan dengan orang lain yang tidak mendapatkannya atau orang lain yang lebih/kurang mendapatkannya. Meninggal, pasti tidak beruntung. Luka parah, lebih beruntung daripada meninggal. Luka ringan, lebih beruntung daripada luka parah, dan saya yang tidak tabrakan dan juga tidak terluka lebih beruntung dari teman saya yang tabrakan.
Paham Untungisme seperti cerita tadi seakan sudah menjadi paham tersendiri dalam budaya, khususnya budaya di Indonesia. Paham itu sepertinya mengajarkan sesuatu yang positif, bahwa sepertinya ada hikmah dibalik sebuah musibah. Jika seseorang mendapatkan musibah, dia diakatakan masih beruntung karena ada orang lain yang musibahnya lebih berat daripada dirinya. Tentunya dengan perkecualian kematian.
Beruntung juga punya musuh : SIAL. Dalam suatu kompetisi, misalnya sepakbola, keberuntungan selalu dikaitkan dengan kesialan. Tim yang menang terkadang dikatakan beruntung sedangkan yang kalah dikatakan sial. Kalau satu tim beruntung, yang lain pasti sial. Tidak mungkin ada 2 tim yang beruntung dalam pertandingan sepakbola. Tim yang menang-lah yang biasanya dihubungkan dengan keberuntungan, sedangkan tim yang kalah dihubungkan dengan kesialan. Terkecuali, tim yang kalah mengatakan bahwa mereka beruntung tidak kalah lebih banyak lagi. Ini keberuntungan yang timbul karena paham untungisme yaitu melihat adanya hal positif dibalik sebuah musibah.
Hidup juga adalah keberuntungan. Dulu saya tidak percaya kalau hidup ini perlu dan butuh keberuntungan. Dulu saya percaya usaha dan kerja keras pasti akan membuahkan hasil, tetapi setelah melalu berbagai peristiwa dalam kehidupan, saya percaya bahwa keberuntungan adalah salah
satu adegan dalam drama kehidupan. Memang keberuntungan tidak bisa diprediksi. Keberuntungan juga tidak bisa dijadikan pegangan dan patokan dalam hidup. Tapi keberuntungan ada dan eksis dalam hidup.
Jika anda membaca tulisan ini, itu berarti anda juga sedang beruntung. Beruntung karena anda akhirnya tahu bahwa ada satu jenis kata yang enak untuk didengar, dan beruntung bahwa anda akhirnya menambah perbendaharaan kata-kata anda. Selamat Beruntung. I Believe in "Lucky".