Archive for June, 2006

Saya Muak dengan Pendidikan Indonesia

Thursday, June 29th, 2006

Moe
Sebulan ini kita disibukkan dengan berita seputar dunia pendidikan. Berawal dari ujian akhir nasional  (UAN) dan berakhir di gedung parlemen, dimana Mendiknas saling adu argumen dengan wakil rakyat. Dan salah satu keputusan penting yang didapat adalah : tidak ada ujian susulan bagi siswa-siswa yang tidak lulus UAN.

What the joke ? Lelucon yang ada di seputar pendidikan kita adalah binatang yang bernama Ujian Akhir Nasional (UAN). UAN adalah suatu bentuk evaluasi hasil belajar yang dilakukan terhadap peserta didik untuk mengetahui tingkat keberhasilan mereka dalam menyerap pengetahuan yang diberikan. Oleh karena itu, evaluasi adalah suatu hal yang wajib dilakukan dalam dunia pendidikan untuk mengetahui tingkat keberhasilan itu. Masalahnya adalah, evaluasi itu dilakukan oleh orang/lembaga/institusi yang tidak mengetahui seberapa jauh proses belajar yang dilakukan oleh peserta didik. Sama seperti saya yang tiba-tiba memberikan ujian kepada siswa kelas 6 SD tanpa mengetahui dinamika dalam proses belajar-mengajar mereka.

Dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 58 ayat (1) dikatakan "Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan". Dari ayat ini sudah diketahui bahwa yang berhak dan berkewajiban menyelenggarakan evaluasi terhadap peserta didik atas proses hasil belajar adalah pendidik alias GURU. Hal ini karena guru-lah yang paling tahu tentang proses belajar di dalam kelas, guru-lah yang paling mengerti tentang kemajuan proses belajar peserta didik, dan guru-lah yang dapat menentukan apakah peserta didik itu berhasil atau tidak dalam proses belajar itu. Itulah salah satu gunanya guru.

Educationteachersbr
Lalu tiba-tiba kita dikejutkan bahwa Negara (baca : pemerintah/depdiknas) menyelenggarakan UAN yang berfungsi sebagai evaluasi hasil belajar dan juga sebagai penentu kelulusan/keberhasilan peserta didik. What the joke !! Apa yang pemerintah tahu tentang proses belajar di kelas ? Apa yang pemerintah tahu tentang kemajuan proses pendidikan ? Apa yang pemerintah tahu tentang sampai seberapa jauh seorang peserta didik bisa mengikuti tingkat pendidikan itu ? Nothing.

Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah mengatakan bahwa UAN diperlukan untuk menyeragamkan dan meningkatkan mutu atau kualitas hasil pendidikan di Indonesia. Pendapat itu dikuatkan oleh Mendiknas Bambang Sudibyo, mengomentari tingkat kelulusan UAN di SMU yang mencapai diatas 90%, yang mengatakan bahwa adanya kenaikan mutu lulusan SMU. What bullshit ? Orang apatis pun tahu kalau kualitas pendidikan sangatlah jomplang di negara ini. Bung JK dan Bung BS tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa kualitas pendidikan di negara ini sama sehingga perlu diadakan UAN yang terstandarisasi untuk menyeragamkan dan meningkatkan mutu pendidikan. Saya yakin mereka berdua tahu tentang pemerataan kualitas pendidikan di negara ini.

Kita tidak bisa membandingkan kualitas pendidikan di Papua dan di Jakarta. Itu sama sajaIjazah1
membandingkan kecepatan lari kuda dan siput. Semua orang tahu bahwa ada disparitas. Lalu ketika ada ujian nasional yang terstandarisasi, kita memakai standar yang mana ?

Salah satu yang dilupakan oleh penentu kebijakan pendidikan di negara ini adalah dalam filosofi pendidikan, hasil ujian bukanlah salah satu indikator keberhasilan pendidikan. Yang terpenting dan jarang disorot adalah proses pendidikan itu sendiri. Pemerintah hanya mau tahu hasil akhir (dengan sistem yang bernama ujian nasional terstandarisasi) tanpa melihat bagaimana proses pendidikan itu berjalan. Yang paling mengerti tentang proses pendidikan adalah Guru, karena mereka terlibat langsung di dalamnya dan mereka telah diamanatkan oleh undang-undang menjadi pihak yang berwenang mengevaluasi hasil belajar peserta didik.

Keberhasilan pendidikan juga tidak bisa dilihat dari kertas nilai hasil ujian dengan nilai sekian dan ada cap LULUS (yang ditentukan pemerintah). Pendidikan adalah proses membangun manusia seutuhnya. Bukan hanya membangun kecerdasan (intelektual) belaka, tapi juga membangun dan meningkatkan afeksi dan motorik. Saya rasa pemerintah tidak perlu diajari masalah itu. PendidikanHate
yang lebih menguatamakan kecerdasan akan menghasilkan output berupa manusia kering emosi dan perilaku. Jadi seperti apa manusia seperti ini ? Yang jelas salah dua profesinya adalah koruptor dan provokator.

Banyak orang pintar di kalangan pemerintahan. Tapi orang pintar yang tidak pintar menyusun kebijakan pendidikan adalah orang pintar yang keblinger. Dan hasil yang didapat dari kebijakan pendidikan yuang keblinger adalah generasi keblinger. Generasi tanpa harapan. Lalu, masihkah kita berharap terhadap pendidikan di tanah air ini ? Harapan selalu ada, tapi kenyataan sekarang berbeda dengan harapan ideal.

Oleh karena itu, maaf kalau saya mengatakan : Saya Muak dengan Pendidikan di Negara ini.

I Believe in “Lucky”

Wednesday, June 28th, 2006

LuckSejak kecil saya paling senang membaca, terutama komik ala Disneyland. Dan salah satu komik yang saya sukai adalah serial komik Donald Bebek. Donald adalah tokoh utama dari komik ini yang digambarkan selalu mendapat kesialan dan ketidakberuntungan, sedangkan Untung adalah tetangga Donald yang digambarkan selalu beruntung, bahkan jika tidak sedang berbuat apapun, dia selalu beruntung. Untung adalah gambaran orang beruntung, sedangkan Donald adalah gambaran orang sial. Dikotomis dan simple, tapi disitulah salah satu letak kelucuan komik ini.

Kita seringkali mendengar kata Beruntung dalam perbendaharaan bahasa setiap hari. Beruntung biasanya selalu dikonotasikan positif, bahwa kita mendapatkan sesuatu yang tidak terduga-duga atau kita berada pada suatu situasi dimana kita diberikan kemudahan, dan semuanya itu diluar perkiraan kita. Tapi apakah selalu begitu ?

Seorang teman saya pernah mengalami kecelakaan tabrakan mobil tetapi dia hanya luka lecet, sedangkan orang dalam mobil yang menabraknya luka parah. Apa kata dia setelah kecelakaan itu ?  "Untung saya nggak luka parah seperti orang itu". Dia hanya lecet di tangan, sedangkan orang lain luka parah di kepala, dan dia mengatakan dia beruntung: untung saya cuma luka ringan. Benarkah dia beruntung ? Tentu saja dia tidak beruntung, karena yang pasti dia tidak beruntung karena tabrakan itu. Ketidakberuntungannya bisa dilihat disini: mobilnya rusak parah dan butuh perbaikan dan juga butuh uang, dia juga harus berobat ke rumah sakit, urusan dengan polisi, dlsb, dlsb. Tetapi kalau dilihat dari jenis lukanya yang hanya berupa lecet di tanah dibandingkan dengan orang lain yang terluka parah, dia dikatakan beruntung. Orang yang terluka parah-pun akan dikatakan beruntung karena tidak meninggal, dan saya yang mendengar ceritanya akan mengatakan bahwa saya juga beruntung karena bukan saya yang tabrakan.

Beruntung dalam kasus diatas selalu dikaitkan dengan tingkat kesulitan/kemudahan yang kita bandingkan dengan orang lain yang tidak mendapatkannya atau orang lain yang lebih/kurang mendapatkannya. Meninggal, pasti tidak beruntung. Luka parah, lebih beruntung daripada meninggal. Luka ringan, lebih beruntung daripada luka parah, dan saya yang tidak tabrakan dan juga tidak terluka lebih beruntung dari teman saya yang tabrakan.

Paham Untungisme seperti cerita tadi seakan sudah menjadi paham tersendiri dalam budaya, khususnya budaya di Indonesia. Paham itu sepertinya mengajarkan sesuatu yang positif, bahwa sepertinya ada hikmah dibalik sebuah musibah. Jika seseorang mendapatkan musibah, dia diakatakan masih beruntung karena ada orang lain yang musibahnya lebih berat daripada dirinya. Tentunya dengan perkecualian kematian.

Gngl_wall2_800Beruntung juga punya musuh : SIAL. Dalam suatu kompetisi, misalnya sepakbola, keberuntungan selalu dikaitkan dengan kesialan. Tim yang menang terkadang dikatakan beruntung sedangkan yang kalah dikatakan sial. Kalau satu tim beruntung, yang lain pasti sial. Tidak mungkin ada 2 tim yang beruntung dalam pertandingan sepakbola. Tim yang menang-lah yang biasanya dihubungkan dengan keberuntungan, sedangkan tim yang kalah dihubungkan dengan kesialan. Terkecuali, tim yang kalah mengatakan bahwa mereka beruntung tidak kalah lebih banyak lagi. Ini keberuntungan yang timbul karena paham untungisme yaitu melihat adanya hal positif dibalik sebuah musibah.

Hidup juga adalah keberuntungan. Dulu saya tidak percaya kalau hidup ini perlu dan butuh keberuntungan. Dulu saya percaya usaha dan kerja keras pasti akan membuahkan hasil, tetapi setelah melalu berbagai peristiwa dalam kehidupan, saya percaya bahwa keberuntungan adalah salahBdonald satu adegan dalam drama kehidupan. Memang keberuntungan tidak bisa diprediksi. Keberuntungan juga tidak bisa dijadikan pegangan dan patokan dalam hidup. Tapi keberuntungan ada dan eksis dalam hidup.

Jika anda membaca tulisan ini, itu berarti anda juga sedang beruntung. Beruntung karena anda akhirnya tahu bahwa ada satu jenis kata yang enak untuk didengar, dan beruntung bahwa anda akhirnya menambah perbendaharaan kata-kata anda. Selamat Beruntung. I Believe in "Lucky".

Holy Blood, Holy Grail, dan “Holy Shit”

Saturday, June 17th, 2006

Holy_blood_holy_grailSekitar seminggu yang lalu saya selesai membaca buku Holy Blood, Holy Grail (edisi bahasa Indonesia) yang ditulis oleh Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln. Begitu terkesannya saya membacanya sehingga saya harus bolak-balik membaca indeks dan referensi buku yang dijadikan acuan, dan juga bolak-balik membaca buku-buku acuan yang selama ini saya miliki dan terlebih lagi membuka-buka internet dan sumber-sumber lain. Apa yang menarik dari buku itu ?

Dan Brown, yang menulis The Da Vinci Code mengatakan bahwa salah satu sumber berharga yang dipakainya dalam menulis buku larisnya itu adalah buku Holy Blood, Holy Grail (HBHG) karya Lincoln, dkk. Tentunya isi buku ini kurang lebih hampir sama dengan buku Da Vin Code. Tentunya tidak ada Michael Langdon dan Sophie Neveu yang dikejar-kejar polisi Perancis.

Isi buku HBHG memang berputar sekitar cerita dalam Da Vinci Code, seperti Biara Sion (Priory of Sion), Ksatria Templar, Dinasti Merovingian, Yesus, Maria Magdalena, dan lain-lain. Diceritakan tentang lika-liku Biara Sion yang dimulai dan didirikan oleh Penguasa Yerusalem pada saat Perang Salib I yaitu Godfroi de Boulion dan cerita-cerita lain yang mengikutinya.

Yang paling menggemparkan dari buku itu adalah pertanyaan-pertanyaan diseputar kehidupan Yesus, seperti apakah Yesus menikah dan punya anak, apakah Maria Magdalena adalah istri Yesus, apakah Yesus benar-beanr mati di kayu salib, apakah keturunan Yesus masih ada sampai sekarang, dan lain-lain. Pertanyaan-pertanyaan itu yang diiringi dengan jawaban yang didapat dari bentuk jurnalisme investigatif sangat menggugah dan mengundang minat.

Seperti pertanyaan : Apakah Yesus menikah ? Ini yang membuat kening sedikit berkerut. Asumsi awal yang dipakai oleh HBHG adalah Yesus adalah seorang Yahudi dan seorang Nabi dan juga Guru (Rabbi), sedangkan dalam hukum Yahudi, baik yang tertulis maupun tidak tertulis, bahwa adalah suatu keharusan bagi seseorang pemuda Yahudi untuk menikah jika telah menginjak usia akil balig. Dan juga ada hukum Yahudi yang tertulis yang mengatakan bahwa seorang baru bisa menjadi Rabbi (Guru) jika telah menikah. Dari perspektif ini, Yesus haruslah sudah menikah.

Di pihak lain, Alkitab dan sumber-sumber lain tidak secara eksplisit menyatakan bahwa Yesus menikah. Cerita Pernikahan di Kana (Yoh. 2:1-11) dikatakan adalah perkawinan Yesus sendiri. Sumber-sumber lain dari kitab Apokrifa (kitab-kitab yang dibuang) juga secara implisit menyatakan bahwa Yesus menikah. Lalu dikatakan juga bahwa istri Yesus adalah Maria Magdalena. Magdalena yang digambarkan dalam Alkitab sebagai perempuan yang meminyaki kaki Yesus dan ikut menyaksikan kematian Yesus di kayu salib, serta perempuan pertama yang datang di kubur Yesus, telah digambarkan secara salah oleh gereja selama ribuan tahun dengan menyatakannya sebagai Pelacur.

Jfkjesus1Magdalena menikah dengan Yesus dan mempunyai keturunan. Setelah kematian Yesus, Magdalena dengan disertai oleh pengikut Yesus melarikan diri ke Perancis bagian selatan (Gaul) yang telah lama dihuni oleh pemukim Yahudi. Disitulah keturunan Yesus menyebar, berketurunan dan mempunyai hubungan dengan Dinasti Merovingian yang menjadi Raja Franks pada abad ke-6 - 7 M. Holy Grail adalah simbolisasi dari keturunan Yesus dan bukanlah Piala Perjamuan jika diartikan secara harafiah.

Apakah cerita itu (dan cerita-cerita lain) benar ? Saya tidak tahu. Tetapi Lincoln, dkk menggunakan cara pengungkapan fakta yang cukup kuat. Mereka menggunakan berbagai macam bukti dan fakta dari tulisan-tulisan dan dokumen-dokumen abad pertengahan serta berburu informasi ke sumber-sumber sejarawan maupun pelaku peristiwa yang dapat dipercaya. Kelemahan terbesar mereka justru di salah satu pernyataan mereka : "Alkitab (perjanjian baru) adalah buku yang telah diubah, diganti, dan diedit ulang sesuai dengan kebutuhan pihak gereja saat itu, sehingga Alkitab tidak lagi menjadi sumber yang terpercaya dalam mengungkapkan cerita dibalik kehidupan Yesus".

Hal itu tidak menjadi masalah jikalau Alkitab dianggap sebagai buku sejarah. Tetapi buku sejarah (apapun itu) adalah buku persepsi dari siapa yang menuliskannya. Isi dari buku sejarah adalah FAKTA dan INTERPRETASI. Sepanjaang fakta disesuaikan dengan interpretasi maka sebuah buku sejarah tidak akan pernah menggambarkan situasi yang sebenarnya. Kesalahan lainnya adalah, jika Alkitab dikatakan tidak lagi merupakan sumber terpercaya, mereka tetap menggunakan ayat-ayat dari dalam Alkitab sebagai bukti penunjang teori mereka. Sebuah buku yang tidak terpercaya sebagai sumber haruslah disingkirkan dari referensi teori yang akan dibangun. Jikalau masih tetap dipakai sebagai sumber, tentunya seorang peneliti harus mempunyai patokan dan ukuran yang jelas akan batas-batas ketidakpercayaan mereka terhadap suatu sumber, dan apa yang terpercaya dan apa yang tidak terpercaya dari suatu sumber sehingga mereka masih bisa mempertanggungjawabkan bukti dari suatu sumber yang mereka katakan sendiri tidak terpercaya.

Kekuatan buku ini adalah mereka tidak mengambil kesimpulan tetapi mengatakan adanya suatu hipotesa. Bahwa hipotesa itu belum teruji benar dan masih dikaitkan dalam hubungan yang belum kuat adalah masalah lain, dan juga sumber dari kekurangan bagi siapapun yang meneliti tentang sejarah Yesus.

Apakah hipotesa dalam buku HBHG mempengaruhi iman seseorang (orang Kristen, khususnya) ?  Bagi saya tidak menjadi masalah. Pembuktian sejarah berada di posisi berseberangan dengan posisi iman. Pembuktian bahwa Yesus menikah dan mempunyai anak tidak menafikan iman orang Kristen. Tentunya perlu perspektif lain dalam memandang masalah ini. Tidak ada yang ditakuti dalam buku ini, dan reaksi berlebihan dari pihak gereja dan agamis justru membuat fakta yang telah ada menjadi terdistorsi.

Holy_shitSaya hanya bisa berucap "Holy Shit" yang bisa diartikan SIALAN. Bukan karena saya terpengaruh atau berubah keimanan karena buku ini, tetapi karena begitu banyak hal-hal dari keimanan saya yang tidak saya ketahui. Setelah saya mengetahuinya, saya juga berkata "Holy Shit", karena mungkin ada hal-hal lain yang perlu saya ketahui menyangkut segala sesuatu terutama keimanan saya. Holy Shit….

Perang telah Dimulai…

Wednesday, June 14th, 2006

295
1950, Stadion Maracana, Rio de Jenairo, Brazil
: Ratusan ribu pendukung Brazil terperangah tak percaya ketika pemain Uruguay, Ghiggia mencetak gol hanya 11 menit sebelum pertandingan usai yang membuat kedudukan menjadi 2-1 untuk kemenangan Uruguay. Brazil akhirnya takluk di kandang sendiri dan membuat Uruguay menggondol Piala Dunia untuk ke-2 kalinya.

1966, Stadion Wembley, London, Inggris : Gol "setengah masuk" Geoff Hurst pada menit 101 masa perpanjangan waktu membuat skor menjadi 3-2 pada final Piala Dunia 1966 antara Inggris melawan Jerman Barat. Gol ini diprotes oleh pemain Jerman Barat yang menganggap bola belum seluruhnya masuk ke dalam gawang. Tetapi wasit Gottfried Dienst asal Swiss tetap mengesahkan gol tersebut. Hurst sendiri akhirnya mencetak gol ketiganya (hattrick) di menit ke 120 sehingga membuat Inggris menang 4-2 dan berhak menyabet Piala Dunia untuk pertama kalinya.

70
1970, Stadion Azteca, Mexico City, Mexico
: Pele menutup penampilan ke-4 beruntunnya di Piala Dunia dengan mencetak gol pertama Brazil di menit ke-18. Penampilan gemilang pemain terbesar sepanjang sejarah sepakbola menurut versi FIFA ini membuatnya menjadi pemain yang mencetak gol di final Piala Dunia sebanyak 3 kali. Brazil akhirnya menambah gol melalui Jairzinho, Gerson dan Pareira sehingga mereka total unggul 4-1 dan meraih Trophi Jules Rimet Cup. Brazil juga akhirnya memboyong trophi ini ke negaranya selama-lamanya karena menjadi negara pertama yang telah 3 kali menjadi juara Piala Dunia.

1982, Stadion Santiago Bernebau, Madrid, Spanyol : Seorang mantan terdakwa doping sepakbola asal Italia, Paolo Rossi menjadi pahlawan bagi negaranya. Di final Piala Dunia 1982 melawan Jerman Barat, Rossi, yang sebelumnya sempat diskorsing selama 1 tahun akibat kasus doping, mencetak 2 gol kemenangan Italia sehingga skor menjadi 3-1 dan membuat Italia merebut trophi Piala Dunia untuk ketiga kalinya. Pemanggilan Rossi ke skuad piala dunia Italia sebelumnya sempat menimbulkan pro-kontra bagi warga Italia. Tetapi pelatih tim nasional Italia, Enzo Bearzot tetap memasukkan nama Rossi dalam daftar pemainnya.
Maradonatanrinineli_2

1990, Stadion Olimpico, Roma, Italia : Final "terburuk" sepanjang sejarah piala dunia. 2 kartu

merah yang diberikan wasit Edgardo Mendez kepada pemain Argentina (Monzon dan Dezotti) dan gol pinalti Andreas Brehme di menit 85 membuyarkan ambisi Diego Maradona untuk meraih trophi Piala Dunia. Sebaliknya Jerman Barat yang ditukangi mantan bintang tahun 1970-an Franz Beckenbauer meraih Piala Dunia untuk yang ke-3 kalinya setelah tahun 1954 dan 1974. Tangisan Maradona setelah pertandingan usai menjadi saksi tragis buruknya final Piala Dunia kali ini.

2510248267
1998, Stadion Stade de France, Paris, Perancis
: Isu "kesurupan" yang menimpa Ronaldo beberapa jam sebelum final dilaksanakan menjadi mimpi buruk bagi tim Brazil. Di final mereka dipermalukan tuan rumah Perancis, 3-0 tanpa balas. Bintang final kali ini adalah Zinedine Zidane, maestro sepakbola Perancis setelah jaman Michael Platini usai. Dua golnya di partai final mempertegas pengukuhannya sebagai pemain terbaik dunia saat itu. Walaupun Perancis harus bermain dengan 10 orang setelah Marcell Desailly dikeluarkan wasit Said Belqola di menit ke-68 tidak membuat Perancis menjadi berkurang. Akhirnya mereka merebut trophy Piala Dunia untuk pertama kalinya sepanjang keikutsertaannya di ajang piala dunia justru di kandang sendiri.

576077673
2006, Stadion Olympiastadion, Berlin, Jerman
: ?

Dan perang itu telah dimulai. 32 negara dari berbagai benua dan konfederasi mengikuti ajang terakbar olahraga terpopuler di planet ini. Selamat datang di realitas sepakbola. Untuk informasi silakan klik http://fifaworldcup.com

Apakah Saya P(a/o)rno ?

Tuesday, June 6th, 2006

Poster_lg02
Menonton film "In the Cut" yg dibintangi oleh Meg Ryan dan Mark Buffalo, ada beberapa hal yang menjadi berkesan dalam hati. Pertama, filmnya bercerita tentang feminisme ala barat dimana perempuan ditampilkan lengkap dengan dinamikanya, emosinya, hasratnya, dan semua aspek-aspeknya. Kedua (dan yang paling bikin penasaran), film ini mengumbar (maafkan pemilihan kata saya) adegan-adegan seks. Sudah jelas film ini harus ditonton oleh orang-orang yang berpredikat "D" di kepalanya, karena banyak orang-orang yang sudah dewasa fisik alias diatas 17 tahun tapi belum "D".

Soal feminisme tidak perlu diperbincangkan. Tapi soal seks dan pengumbaran seks (sorry…!!)

selalu enak dan asik untuk diperbincangkan, apalagi sambil dibayangkan. Terus terang, menonton film itu saya tidak terangsang apalagi membayangkan yang tidak-tidak. Karena dalam kepala saya, jika saya menonton film dengan suatu tujuan, maka tujuan lain dapat dialihkan alias tidak diperhatikan. Ini berlaku untuk semua media, bahwa segala sesuatu yang merangsang selalu hadir dan ada di kepala orang yang melihat media itu. Jika dalam kepala pemirsa tidak ada hal-hal yang menimbulkan rangsangan, maka bisa jadi film yg bertema "bokep" pun tidak akan merangsang. Tapi apabila di dalam kepala sudah ada hal-hal yang merangsang, maka film film perang-pun bisa membuat merangsang. Nah lo…

Dari dulu kita selalu takut akan segala sesuatu yang bernama "SEKS". Bahkan seks pada suatu masaSeks9_2
seks dianggap menjijikkan dan tabu. Hal itu masih berlangsung sampai sekarang. Segala sesuatu kita lakukan agar terhindar dari DOSA yang bernama SEKS. Akibatnya bisa runyam, begitu kata nenek dulu. Seks ditutup-tutupi, dilarang-larang, bahkan mungkin dulu pernah seks dianggap bahaya laten, seperti kita memperlakukan komunisme. Tapi walaupun demikian, seks selalu enak dibicarakan, karena memang segala sesuatu yang berbau seks pasti mengundang perasaan ingin tahu. Seperti kata istilah, pagar dibuat bukan untuk menghalangi tapi untuk dilompati.

Tapi mengapa kita harus selalu takut akan seks. Sekali lagi jawabannya cuma satu : akibatnya. Tapi, apakah kita tidak bisa mengendalikannya sehingga harus takut pada akibatnya ? Itulah masalahnya. Seks sebenarnya bisa dikendalikan dan diinstitusikan (bahasa kerennya). Seks selalu melibatkan sesuatu yang menyenangkan. Di dalam seks biasanya selalu ada dua unsur. Satu, Prokreasi, yaitu untuk meneruskan keturunan; dan dua, Rekreasi, yaiktu untuk  kesenangan manusia.  Jadi dimana  aspek yang membuat seks menjadi bahaya laten ? Sebenarnya tidak ada, tapi menjadi ada karena, kembali lagi,  segala sesuatu yang porno, cabul, dan merangsang hanya ada di kepala seseorang. Ini sama seperti kita takut berjalan di malam hari karena kita selalu membayangkan hal-hal yang menakutkan.

Lalu kita menjadi parno alias paranoid membicarakan, apalagi menampilkan, seks yang menurut kita porno. Lalu kita mereduksi semua hal-hal yang menurut kepala kita porno. Lalu kita melarang dan membredel media-media yang menampilkan hal-hal yang menurut kepala kita porno. Lalu kita membuat aturan-aturan tentang hal-hal yang menurut kepala kita porno. Dan lalu kita kembali ke jaman model Victoria ketika seks, sesuai jamannya, memang amat sangat tabu dan menjijikkan.

Paranoid_1
Lalu ? Lalu kitapun sulit membedakan apakah seks dari sananya memang porno, ataukah otak kita yang parno sehingga membuat seks jadi ikut-ikutan menjadi sarana ke-paranoid-an kita. Seperti kata pepatah : buruk rupa cermin dibelah. Apa yang salah dengan seks ? Tidak ada. Seks menjadi salah ketika dia disimpangkan, baik secara sengaja oleh orang yang bertujuan menyimpangkannya atau oleh "orang biasa" yang di dalam kepalanya penuh dengan seks yang parno.

Tulisan ini tidak bertujuan menentang atau mendukung RUU APP dan pembredelan majalah Playboy Indonesia, atau hal-hal lainnya. Saya yakin orang parno-pun punya akal sehat dan hati nurani.

Duka Cita Untuk Jogja & Jateng

Saturday, June 3rd, 2006

Tidak ada kata yang terucap selain :

Turut Berduka Cita
atas Bencana Gempa Bumi
di Jogja dan Jateng

Semoga Para Korban diberi ketabahan oleh Yang Maha Kuasa. Amin