Ternyata Cinta… (Cinta tidak Bodoh, tapi Bisa Bikin Orang jadi Bodoh)
Dan ternyata cinta yang menguatkan aku….
Dan ternyata cinta tulus mendekap jiwaku…
(Ternyata Cinta by Padi)

Lirik lagu dari grup musik Padi diatas sangat manis terdengar. Dan saya yang merupakan penggemar Padi bisa merasakan kekuatan dalam lagu itu, baik secara lirik maupun musik.
Tapi bukan itu intinya. Yang menjadi permasalahan adalah cinta itu sendiri, yang teramat sering diumbar dalam bentuk lagu. Sedemikian dahsyatkah cinta itu sehingga hampir tiap lagu yang saya dengar, baik dari televisi, radio, komputer, ataupun media yang lain, selalu bertema cinta dan cinta ? Retoris memang, karena jawabannya sudah pasti. Tetapi apakah cinta itu sampai sedemikian dahsyatnya memainkan peran dalam kehidupan manusia ?
Tentu saja kalau saya menjawab pertanyaan bodoh diatas (apakah cinta itu ?), saya akan menjadi seperti orang bodoh. Sulit untuk mendefiniskan cinta, dan jika anda menanyakan hal itu pada sejuta manusia, saya yakin, dan teramat sangat yakin, bahwa anda akan mendapatkan sejuta jawaban, dan terkadang jawaban yang bodoh. Di lain cerita, cinta, seperti dalam lirik lagu Padi, bisa mempunyai banyak fungsi, tugas, wewenang, makna, dan tetek bengek lainnya. Seperti : menguatkan aku, tulus mendekap jiwaku, mampu menjawab perbedaan, dll.
Saya koq tiba-tiba jadi orang yang bodoh tentang cinta ? Saya punya beberapa teman yang mencintai orang lain yang jelas-jelas "tidak selevel" dengan dirinya. Anda tahu maksudnya, bukan ? Saya mengandaikan anda sudah tahu maksudnya. Maksudnya begini: ada teman saya yang pacaran dengan satu orang tapi menikah dengan orang lain, ada yang menikah tanpa pernah pacaran (bahkan katanya tidak suka) dan cintanya timbul setelah mereka menikah dan punya anak, ada teman yang tidak pernah ketemu selama lebih dari 5 tahun (dan dulunya juga tidak pacaran) dan sekali ketemuan 3 bulan kemudian langsung menikah, dan kasus-kasus yang lain. Itu maksud saya dengan "tidak selevel". Itu juga dengan pengandaian bahwa kenalan, pacaran, menikah dan sebagainya sebagai manifestasi (?) adanya cinta. Itu bisa salah, tetapi setidaknya sudah diterima umum.
"Ketidakselevelan" ini membuat orang yang mempunyai cinta menjadi tampak bodoh dalam
pandangan orang lain. Bodoh karena dengan cinta yang dia punya, dia bisa membuat pilihan yang tampaknya bodoh dalam hidupnya, (dalam pandangan orang lain, sekali lagi !) dan beroleh kebahagiaan dengan pilihannya itu. Dan ketika ditanya, mengapa membuat pilihan seperti itu, jawabannya-pun sumir : That’s Love. Gubraaakkkk…!!!!
Tapi jika pilihan itu membuat bahagia, kita bisa mengatakan "sengsara membawa nikmat" atau "berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian". Di cerita yang lain, ada orang-orang yang tidak membuat pilihan yang bodoh dalam kehidupan cintanya, tetapi benar-benar menjadi bodoh karena cinta. Anda tahu maksudnya ? Dirinya benar-benar menjadi "bodoh" (sekali lagi, dalam pandangan orang !) karena cinta yang dipunyainya membuat hidupnya hancur berantakan. Ada yang meninggalkan teman-temannya karena mencintai orang lain yang tidak suka teman-temannya itu, ada yang merelakan harta hanya untuk cinta yang tidak pernah dapat diraihnya, bahkan ada yang rela kehilangan nyawa untuk cintanya.
Bodohkah mereka ? Dalam kasus tertentu bisa saja tidak bodoh, tetapi bisa dikatakan pengorbanan, kepahlawanan, kekuatan, dan lain sebagainya. Tetapi di kasus-kasus cinta antar manusia dewasa yang sebagian besar berisi ketertarikan akan fisik dan penampilan lalu menggeneralisasikannya sebagai cinta, hal itu bisa berarti kebodohan, tanpa embel-embel pengorbanan atau kepahlawanan. Itulah, cinta mempunyai kekuatan untuk "membodohkan" seseorang.
Tetapi jika cinta mempunyai kekuatan seperti itu, apakah cinta, dan kata kerjanya, mencintai adalah juga sebuah kebodohan. Saya berani untuk mengatakan tidak. Cinta sebagai sebuah rasa tidak pernah dikaitkan dengan kebodohan. Justru cinta sering diungkapkan dengan anugerah, bahwa adalah suatu anugerah untuk mempunyai cinta dan mencintai. Dalam pendekatan spiritualitas, cinta adalah karunia yang diberikan oleh Sang Pencipta agar ciptaannya dapat mengenal lebih dekat ciptaan yang lain dan juga dapat lebih mengenal penciptanya. Indah memang.
Ternyata cinta memang tidak bodoh, yang bodoh seringkali adalah manusia yang mencintai. Kebodohan sering timbul karena cinta diagungkan melebihi kehidupan. Cinta tanpa kehidupan bisa berarti kesia-siaan, dan kehidupan tanpa cinta bisa berarti…. Saya tidak ingin membayangkannya, karena saya takut akan terwujud.
Anda tahu maksudnya, bukan ?
July 9th, 2006 at 9:32 am
“Aku hanya ingin bercinta karena.. mungkin ada kamu disini.. aku ingin.”, cinta versi Dhani Ahmad. =D Marilah kita bercinta, cinta ada untuk bercinta. Mati kali bahasanya!! huihhhhhhh
July 21st, 2006 at 11:54 pm
jadi maksud anda manusia yg punya rasa cinta di hatinya itu bodoh?
July 23rd, 2006 at 9:37 am
anda salah menangkap esensinya (:D). cinta tidak bodoh, cinta yang dimiliki tiap orang juga tidak bodoh, tapi cinta bisa membuat orang bertindak bodoh (dalam pandangan orang lain).
August 16th, 2006 at 10:47 pm
cinta manakah yang benar? passionate? logic? friendship? selfless? game-playing? or dependent love? Hm, semua tergantung bagaimana orang melihatnya bukan? Yang bodoh adalah mereka yang hidupnya “dipermainkan” oleh cintanya sendiri, bukan cintanya yang salah…..