My Photo

May 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

Mengapa Saya Menulis ?

WenowknowwhoTak terasa blog ini sudah terisi oleh beberapa artikel dengan beberapa kategori. Dan tak terasa tulisan-tulisan itu sudah menghiasi beberapa situs yang saya ikuti. Ada sedikit perasaan bangga bahwa saya bisa menulis walaupun terkadang tulisan itu hanya sekedar omelan dan lontaran uneg-uneg akibat kepenatan badan dan hati.

Banyak yang diperoleh, begitu kata orang, dengan menulis. Menulis membuat imajinasi mengembara ke rawa-rawa pengetahuan, ke lembah-lembah peradaban, bahkan sampai ke hamparan padang pasir ketidaktahuan. Semuanya berawal dari ketidaktahuan. Itu kata orang. Dan semua membentuk proses menuju akhiran yang bahkan bisa berbentuk ketidaktahuan baru. Yang jelas tidak ada kesimpulan umum yang bisa saya buat. Tulisan hanya mengungkapkan makna dan arti dari segala sesuatu, seperti yang tertulis dalam tag line blog ini. Lalu kemana akhir dari tulisan itu ?

Satu hal yang selalu saya ingat dalam menulis adalah : jagalah dirimu. Menjaga diri dari prasangka yang buruk walaupun itu terkadang terlepas liar tak terkendali, menjaga diri dari perasaan paling merasa tahu dan paling merasa mampu yang berujung pada kesombongan diri, menjaga diri dari kesimpulan liar tanpa bukti, dan juga menjaga diri dari tulisan yang tak bermakna. Tapi terus terang, semuanya sangat susah untuk dilakukan.

Ketika menulis tentang pendidikan, saya cenderung terjerumus dalam dikotomi pro dan kontra terhadap UAN. Ketika menulis tentang cinta dan kebodohan, saya cenderung terperosok dalam prasangka kebodohan orang atas nama cinta. Ketika menulis tentang keberuntungan, saya cenderung terjatuh dalam pengagungan terhadap hal-hal yang belum pasti seperti keberuntungan itu sendiri. Ketika menulis tentang Soeharto, saya cenderung terjerumus sekali lagi ke dalam praduga tak bersalah. Dan masih banyak lagi hal-hal yang membuat moto "jagalah dirimu" tidak selamanya berhasil dalam tulisan ini.

Di lain pihak menulis adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan dan membantu diri saya. Menulis mengembangkan hal-hal yang selama ini tidak saya sadari dari diri saya. Menulis membelah ketidaksadaran saya dan mengeluarkannya dari kegelapan walaupun hasil yang didapat masih berbentuk kegelapan juga. Tapi itulah fungsi menulis. Membuat diri kita berekspresi ke luar tanpa batas. Tak ada batasan dalam menulis bahkan ketika kita menulis hal-hal yang sudah umum dibicarakan oleh orang lain.

Dan ketika tulisan-tulisan itu sudah menggunung dan ketika saya merefleksikannya kembali, terbersit keinginan kecil dalam hati untuk berhenti menulis. Capek dan lelah, malas, tak berguna, dan banyak alasan lain untuk menghentikan aktivitas ini. Semuanya itu bukan membuat diri saya makin nyaman tapi justru membuat menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus tidak menyenangkan. Menggairahkan sekaligus melelahkan. Dan yang terpenting menarik sekaligus membosankan.

Tapi apakah semuanya itu akan berhenti ? Saya sendiri tidak tahu. Tidak tahu mungkin kata yang paling tepat menggambarkan aktivitas ini. Berawal dari ketidaktahuan dan berakhir pada ketidaktahuan. Jadi ketika menulis membuat saya tidak tahu, maka saya akan terus menulis sampai ketidaktahuan itu justru membebaskan diri saya dari prasangka paling mengetahui. Kontradiktif ? Mungkin saja, tapi itulah yang membuat tulisan-tulisan ini menjadi berarti bagi saya, dan entah buat orang lain. Sama tidak tahunya ketika seorang bayi baru lahir dan tidak mengetahui apapun yang terjadi di dunia ini. Itulah saya, yang berusaha untuk menjadi bayi yang baru lahir atau seperti papan putih tabula rasa yang berusah menyerap semua apa yang ada didunia ini dan menuliskannya kembali. Dan ketika bayi itu tetap menjadi bayi atau papan tabula rasa itu tetap berwarna putih setidaknya ketidaktahuan itu pernah diisi oleh sesuatu.

Dimana Letak Surga Itu ?

Angels766984_1Satu hal yang sering mengusik pikiranku adalah ketika menyalakan TV dan mengganti channel ke MTV versi MTV Lokal Abieeezz dan kebetulan yang sedang mendendangkan lagu adalah Agnes Monica dengan lagu barunya (lupa judulnya...) dimana ada lirik dari lagu itu yang berbunyi : ...dimana letak surga itu.... ? Yang timbul dalam pikiran saya pertama kali adalah, apakah yang mengarang lagu ini (dan yang menyanyikannya) tidak tahu dimana letak surga itu ? Apakah surga itu begitu tersembunyi dan tak teridentifikasi sehingga kita masih perlu bertanya, dimana letak surga itu ?

Waktu kecil dulu, orang (guru, tetangga, dll) sering berkata kalau surga ada di telapak kaki ibu. Itulah makanya mereka menganjurkan kalau kita harus sangat menghormati ibu kita. Dulu saya mengartikannya secara harafiah, bahwa memang benar kalau surga itu di telapak kaki ibu. Sehingga ibu saya sering saya pijat kakinya, siapa tahu bisa melihat surga di telapak kakinya. Setelah besar dan seperti sekarang ini saya baru mengerti kalau penggambaran surga di telapak kaki ibu hanyalah suatu kiasan agar kita lebih dapat menghormati dan menyayangi ibu kita. Tak ada yang ingin nasibnya seperti Malin Kundang, bukan ?

Lalu ketika saya belajar agama di sekolah dasar sampai kuliah, saya diberikan lagi konsep tentang SURGA. Bahkan lengkap dengan lawannya : NERAKA. Penggambaran surga dalam pemahaman agama, lagi-lagi saya tangkap secara harafiah. Bahwa orang yang beriman dan percaya akan masuk surga sedangkan orang yang tidak beriman dan selalu berbuat kejahatan akan masuk neraka. Surga seakan-akan menjadi ganjaran atas keimanan dan perbuatan baik kita di dunia ini. Jika baik masuk surga, jika jahat masuk neraka. Simple.

Tentunya konsep surga yang saya dapatkan dalam pelajaran agama selama bersekolah adalah surga setelah kematian. Surga hanya ada ketika kita telah mati dan menghadap pencipta. Dan disitu kita akan disaring, siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka. Lalu timbul pertanyaan bodoh berikutnya : apakah ketika kita masih hidup di dunia ini tidak ada surga ? Surga yang saya maksud bukanlah surga yang ada di telapak kaki ibu. Banyak yang menjawab, TIDAK ADA. Saya tidak ingin berdebat dengan para penentang surga dunia tetapi hanya sekedar berusaha menjawab pertanyaan bodoh tadi.

Surga dalam pengertian umum adalah sesuatu tempat yang menyenangkan, penuh dengan kenikmatan dan kesenangan, dan yang terpenting adalah abadi (eternal). Disitu tidak ada penderitaan dan kesakitan, disitu seseorang dapat dipuaskan kebutuhannya (dalam pengertian agama : kebutuhan rohani). Surga adalah tempat dimana kita sudah tidak punya keinginan-keinginan lagi karena SEMUA keinginan kita telah terpenuhi. Apakah anda tahu semua keninginan anda ? Di surga, semuanya telah terpenuhi, bahkan keinginan yang tidak kita sadari sekalipun. Surga adalah abadi karena setelah surga tidak ada lagi tempat lain yang lebih indah dari surga, dan di surga tidak ada kematian dan yang ada adalah kehidupan yang kekal. Dengan kata lain, surga adalah suatu TEMPAT yang menjadi tujuan hidup semua manusia di bumi ini.

Kembali ke pertanyaan bodoh diatas : apakah tidak ada surga di dunia ini, sehingga kita harus mati300_carpe_diem_1822 dulu untuk mencapainya ? Saya tidak tahu seperti apa surga yang akan saya peroleh ketika mati nanti, oleh karena itu saya tidak tahu kenikmatan dan kesenangan seperti apa didunia ini yang dapat disamakan dengan surga. Tapi bagi pencinta dan penikmat hedonisme, kehidupan di dunia ini adalah surga. Inilah dan sekarang inilah (here and now) anda sedang melihat surga. Penjelasan sejarahnya panjang mengapa hedonisme itu ada, tetapi salah satu motto utamanya adalah Carpe diem alias nikmatilah hari ini (terjemahan kasarnya). Surga itu eksis sekarang ini di dunia ini, dan yang kita lakukan sekarang ini hanyalah menikmati kehidupan ini sepuas-puasnya karena inilah surga dan setelah itu tidak ada lagi. Wow, dahsyat dan memabukkan, karena kita tidak perlu berpikir lagi tentang kehidupan di surga setelah kematian.

Bagi sebagian kalangan orang, surga hanyalah konsep semata. Konsep yang kita buat di otak kita dan kita analogikan dengan segala sesuatu yang berwujud pada hal-hal yang menyenangkan. Konsep seperti ini membutuhkan si pembuat konsep alias manusia. Jika manusianya mati, maka konsep tentang surga itupun otomatis mati, dan dengan demikian surga itu otomatis mati pula alias tidak eksis. Konsep ini bersifat subyektif. Tak ada salahnya berpikir subyektif menyangkut kesenangan karena kesenangan itu sendiri subyektif, sehingga surga boleh dikatakan subyektif pula.

Lalu saya masih sering bertanya, seperti apa surga itu dan dimana letaknya, setelah saya mengetahui pendapat-pendapat di kanan dan kiri saya yang menjelaskan tentang surga ? Jika mengikuti insting keagamaan dan spiritualitas saya, saya akan berkata surga itu ada setelah kematian sebagai ganjaran atas kehidupan kita di dunia ini yang diberikan sang pencipta. Jika mengikuti naluri kesenangan saya, saya akan mengatakan kalau surga itu ada sekarang ini dalam kehidupan dan harus dinikmati sepuas-puasnya. Jika saya mengikuti konsep dalam kepala saya, maka saya akan mengatakan bahwa surga itu hanya sekedar konsep di dalam otak saya yang saya koneksikan dengan kesenangan dan akan mati ketika saya juga mati.

Mana yang saya ikuti ? Banyak orang yang bilang : Pilih salah satu. Tidak ada ada daerah abu-abu dalam surga, yang ada hanyalah putih dan hitam. Putih di sini dan hitam di seberang sana. Memang kejam, kita harus disuruh memilih ketika kita tidak tahu harus memilih apa. Tapi saya selalu memilih satu kata untuk memilih surga : BERDAMAI. Hah, binatang apa itu ? Saya tidak ingin terlalu mengekang atau meliarkan pilihan-pilihan nafsu, spiritualitas, dan rasionalitas dalam diri saya. Dan yang saya lakukan adalah mendamaikannya dalam diri saya. Terasa sulit ? Tidak juga. Hanya butuh sedikit kesabaran dan kebesaran jiwa. Tetapi, sialnya, saya belum mencapai tahap pendamaian yang sebenarnya. Jika sudah, tentunya saya telah mencapai taraf kesadaran seperti tokoh-tokoh spiritualis besar dunia.

Agnesdlm_2Saya tidak tahu surga seperti apa yang ditanyakan Agnes Monica. Mungkin kalau kami bertemu, saya akan menanyakan kepadanya. Untuk sementara saya simpan perasaan saya ini. Atau, apakah anda tahu ? Maksud saya, tentang surga yang dimaksud Agnes Monica dan tentang surga yang sebenarnya ? Saya tunggu jawaban anda.

Sejenak Merenung tentang Moralitas

Langvoiceofmorality Tak pernah terbayang jika manusia tidak mempuanyai moral, tapi lebih tak terbayang lagi jika manusia tidak punya hati nurani. Moralitas lebih mengatur pada apa yang baik dan yang tidak baik. Dia hanya menyentuh sisi terluar dari kehidupan dan tingkah laku manusia. Kita bisa membuat banyak sinonimnya: norma, nilai, etika, tatanan, dll. Tapi hati nurani menyentuh sisi terdalam dari batin manusia, karena dia berbicara tentang apa yang benar dan yang salah.

Orang mungkin mengatakan bahwa moralitas adalah pengejawantahan dari hati nurani manusia. Tidak sepenuhnya salah dan juga tidak sepenuhnya benar. Hati nurani tak pernah terindera dan hanya bisa terasa. Moralitas teraplikasi dalam kehidupan. Tetapi perbedaan utamanya adalah bahwa moralitas adalah hati nurani yang telah terselubungi dan tercampur dengan topeng (mask). Manusia memakai topeng dalam perbuatan dan tingkah lakunya. Tidak semua moralitas dalam diri (hati nurani) bisa diaplikasikan dengan mudah pada dunia luar. Manusia selalu menampilkan apa yang selalu menyenangkan dan apa yang berwujud kebaikan ke dunia luar. Dan inilah peran topeng itu.

Ketika moralitas dijadikan sandaran suatu komunitas dan dijadikan pegangan hidupnya, selalu saja ada perbenturan dengan komunitas yang lain. Ini karena moralitas suatu kelompok tidak pernah sama dengan moralitas kelompok lain. Apa yang membedakannya ? Topeng. Topeng itu bisa berbentuk apa saja, bisa agama, budaya, nilai sosial, pendidikan, gaya hidup, dan lain-lain. Itulah yang membuat suatu moralitas berada dalam sisi relatif, bukan relatif dalam arti tidak ada patokan bersama tentang nilai kebaikan, tetapi relatif dalam arti "adanya topeng yang berbeda antara tiap individu dan antara tiap komunitas".

Untuk komunitas yang lebih homogen (walaupun tidak 100% homogen), lebih mudah mudah mengaplikasikan suatu moralitas tertentu, karena topeng yang dipakai oleh anggota komunitas itu tidak jauh berbeda. Moralitas jenis ini dapat dengan mudah kita jumpai di suatu komunitas yang sama secara agama, budaya, pendidikan, nilai sosial, dll. Misalnya saja kelompok yang mengaplikasikan peraturan-peraturan agama sebagai tatanan nilai dalam kelompoknya.

529csarofmorality Tapi moralitas jenis itu akan menemui kesulitan ketika berhadapan dengan komunitas yang lebih majemuk. Apa yang membuatnya sulit ? Sekali lagi Topeng. Topeng yang berbeda dikenakan oleh orang dan kelompok yang berbeda akan menghasilkan nilai dan norma (moralitas) yang berbeda. Paksaan moralitas berupa keseragaman justru hanya menghasilkan konflik. Nilai yang berbeda tidak bisa dipaksakan seragam. Aturan-aturan yang melandasi kehidupan suatu komunitas besar yang heterogen adalah nilai bersama yang diadopsi dari masing-masing moralitas tiap kelompok dalam komunitas itu. Bahkan moralitas terkadang tidak boleh dijadikan suatu landasan hukum positif dalam komunitas itu. Karena mengundangkan suatu aturan yang berbasis moralitas tertentu akan menghadapi resistensi dari kelompok lain yang merasa tidak bisa menerima moralitas tersebut.

Adalah suatu hal yang teramat absurd kalau memaksakan suatu jenis moralitas tertentu yang berbasis pada suatu topeng tertentu pada kehidupan suatu komunitas yang heterogen.