Archive for the ‘Psychology’ Category

Ternyata Cinta… (Cinta tidak Bodoh, tapi Bisa Bikin Orang jadi Bodoh)

Sunday, July 9th, 2006

         Dan ternyata cinta yang menguatkan aku….
         Dan ternyata cinta tulus mendekap jiwaku…
                                     (Ternyata Cinta by Padi)

Amor_de_serpiente
Lirik lagu dari grup musik Padi diatas sangat manis terdengar. Dan saya yang merupakan penggemar Padi bisa merasakan kekuatan dalam lagu itu, baik secara lirik maupun musik.

Tapi bukan itu intinya. Yang menjadi permasalahan adalah cinta itu sendiri, yang teramat sering diumbar dalam bentuk lagu. Sedemikian dahsyatkah cinta itu sehingga hampir tiap lagu yang saya dengar, baik dari televisi, radio, komputer, ataupun media yang lain, selalu bertema cinta dan cinta ? Retoris memang, karena jawabannya sudah pasti. Tetapi apakah cinta itu sampai sedemikian dahsyatnya memainkan peran dalam kehidupan manusia ?

Tentu saja kalau saya menjawab pertanyaan bodoh diatas (apakah cinta itu ?), saya akan menjadi seperti orang bodoh. Sulit untuk mendefiniskan cinta, dan jika anda menanyakan hal itu pada sejuta manusia, saya yakin, dan teramat sangat yakin, bahwa anda akan mendapatkan sejuta jawaban, dan terkadang jawaban yang bodoh. Di lain cerita, cinta, seperti dalam lirik lagu Padi, bisa mempunyai banyak fungsi, tugas, wewenang, makna, dan tetek bengek lainnya. Seperti : menguatkan aku, tulus mendekap jiwaku, mampu menjawab perbedaan, dll.

Saya koq tiba-tiba jadi orang yang bodoh tentang cinta ? Saya punya beberapa teman yang mencintai orang lain yang jelas-jelas "tidak selevel" dengan dirinya. Anda tahu maksudnya, bukan ? Saya mengandaikan anda sudah tahu maksudnya. Maksudnya begini: ada teman saya yang pacaran dengan satu orang tapi menikah dengan orang lain, ada yang menikah tanpa pernah pacaran (bahkan katanya tidak suka) dan cintanya timbul setelah mereka menikah dan punya anak, ada  teman yang tidak pernah ketemu selama lebih dari 5 tahun (dan dulunya juga tidak pacaran) dan sekali ketemuan 3 bulan kemudian langsung menikah, dan kasus-kasus yang lain. Itu maksud saya dengan "tidak selevel". Itu juga dengan pengandaian bahwa kenalan, pacaran, menikah dan sebagainya sebagai manifestasi (?) adanya cinta. Itu bisa salah, tetapi setidaknya sudah diterima umum.

"Ketidakselevelan" ini membuat orang yang mempunyai cinta menjadi tampak bodoh dalamAmor_25_1
pandangan orang lain. Bodoh karena dengan cinta yang dia punya, dia bisa membuat pilihan yang tampaknya bodoh dalam hidupnya, (dalam pandangan orang lain, sekali lagi !) dan beroleh kebahagiaan dengan pilihannya itu. Dan ketika ditanya, mengapa membuat pilihan seperti itu, jawabannya-pun sumir : That’s Love. Gubraaakkkk…!!!!

Tapi jika pilihan itu membuat bahagia, kita bisa mengatakan "sengsara membawa nikmat" atau "berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian". Di cerita yang lain, ada orang-orang yang tidak membuat pilihan yang bodoh dalam kehidupan cintanya, tetapi benar-benar menjadi bodoh karena cinta. Anda tahu maksudnya ? Dirinya benar-benar menjadi "bodoh" (sekali lagi, dalam pandangan orang !) karena cinta yang dipunyainya membuat hidupnya hancur berantakan. Ada yang meninggalkan teman-temannya karena mencintai orang lain yang tidak suka teman-temannya itu, ada yang merelakan harta hanya untuk cinta yang tidak pernah dapat diraihnya, bahkan ada yang rela kehilangan nyawa untuk cintanya.

Bodohkah mereka ? Dalam kasus tertentu bisa saja tidak bodoh, tetapi bisa dikatakan pengorbanan, kepahlawanan, kekuatan, dan lain sebagainya. Tetapi di kasus-kasus cinta antar manusia dewasa yang sebagian besar berisi ketertarikan akan fisik dan penampilan lalu menggeneralisasikannya sebagai cinta, hal itu bisa berarti kebodohan, tanpa embel-embel pengorbanan atau kepahlawanan. Itulah, cinta mempunyai kekuatan untuk "membodohkan" seseorang.

Tetapi jika cinta mempunyai kekuatan seperti itu, apakah cinta, dan kata kerjanya, mencintai adalah juga sebuah kebodohan. Saya berani untuk mengatakan tidak. Cinta sebagai sebuah rasa tidak pernah dikaitkan dengan kebodohan. Justru cinta sering diungkapkan dengan anugerah, bahwa adalah suatu anugerah untuk mempunyai cinta dan mencintai. Dalam pendekatan spiritualitas, cinta adalah karunia yang diberikan oleh Sang Pencipta agar ciptaannya dapat mengenal lebih dekat ciptaan yang lain dan juga dapat lebih mengenal penciptanya. Indah memang.

Ternyata cinta memang tidak bodoh, yang bodoh seringkali adalah manusia yang mencintai. Kebodohan sering timbul karena cinta diagungkan melebihi kehidupan. Cinta tanpa kehidupan bisa berarti kesia-siaan, dan kehidupan tanpa cinta bisa berarti…. Saya tidak ingin membayangkannya, karena saya takut akan terwujud.

Anda tahu maksudnya, bukan ?

 

Psikotes : Antara Ketidaktahuan dan Gugatan

Sunday, May 21st, 2006

IqchildrengraphBanyak teman yang mengklaim kepada saya kalau dirinya sudah mengikuti berbagai jenis tes psikologi dan sudah latihan soal-soal tes psikologi, tetapi ketika mengikuti psikotes di sebuah perusahaan, diberitahukan bahwa dirinya tidak lulus psikotes. Sementara soal-soal yang diujikan sudah dikenalnya dan dapat dengan mudah dikerjakannya. Ada apa gerangan ? Lalu ada orang lain yang bertanya, saya kan sudah lulus psikotes di perusahaan ini, koq di perusahaan anu bisa nggak lulus ? apa nggak ada semacam sertifikat yang menyatakan kita sudah lulus psikotes, jadi nggak harus bolak-balik ikut psikotes ? koq hasil psikotes kita nggak pernah diberitahukan kepada kita sebagai testee ? dlsb, dlsb….

Saya yakin kalau banyak orang yang merasa ingin tahu seperti apa tes psikologi itu. Apa dasarnya, apa parameternya, apa ukurannya, dan apa tetek bengeknya. Mungkin tulisan ini tidak bisa menjawab segumpal kegundahan, tetapi setidaknya dapat memberikan gambaran.

Psikotes pada dasarnya adalah sebuah tes psikologi yang diberikan dengan suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Psikotes menyangkut semua tes yang berhubungan dengan psikologi, berupa alat diagnosa dan prognosa dari suatu fenomena yang akan diketahui. Oleh karena itu psikotes bukanlah hanya tes yang berhubungan dengan pencil-and-paper test saja, tetapi bentuk lain seperti wawancara dan observasi dapat juga digolongkan sebagai psikotes jika tujuannya untuk mengetahui suatu gejala psikologis tertentu.

Tes psikologi secara umum dapat dibagi kedalam beberapa bagian, yaitu (1) Tes Kepribadian; (2) Tes Bakat; (3) Tes Inteligensi; dan (4) Tes Prestasi. Walaupun demikian, banyak ahli yang menggolongkan beberapa tes psikologi diluar ke-4 tes tersebut. Keempat tes tersebut tidak serta merta digunakan semuanya dalam sebuah baterai tes, tetapi tergantung dari tujuan yang akan dicapai oleh tes-tes tersebut.

Tes Kepribadian adalah jenis tes yang bertujuan untuk mengetahui kepribadian seseorang.Rorschach_1 Kepribadian adalah unit psikologi yang bersifat covert dan tidak dapat dilihat dan hanya bisa diketahui dengan suatu tes tertentu yang bernama tes kepribadian. Model dan bentuknya bermacam-macam. Ada yang berbentuk pencil-and-paper test seperti MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory), ada yang berbentuk tes proyeksi seperti Tes Rorschach, TAT (Thematic Apperception test), dll. Tes Bakat adalah jenis tes berikutnya yang lebih menekankan pada prognosa fenomena psikologis yang akan diketahui. Dalam hal ini tes bakat (aptitude test) mengetahui semacam potensi terpendeam yang dimiliki. Kebanyakan tes bakat mempunyai nilai prediksi terhadap sesuatu yang terjadi di masa depan dari suatu individu. Misalnya Tes Kesiapan Masuk Sekolah, Tes Bakat Khusus (SAT), Tes Bakat Mekanikal, dll.

Tes Inteligensi adalah tes umum yang bertujuan mengetahui kemampuan intelegensi seseorang pada suatu saat tertentu. Tes ini banyak dibicarakan orang karena pada umumnya memberikan suatu skala inteligensi. Tes inteligensi misalnya Tes Stanford-Binet, Tes Wechsler, dll. Sedangkan Tes Prestasi adalah jenis tes yang lebih sering dipakai dalam dunia pendidikan khususnya untuk mengetahui seberapa besar penguasaan materi tertentu pada anak didik.

Walaupun demikian, banyak tes-tes yang dimodifikasi dan disesuaikan dengan tujuan dan lingkungan penggunaan tes tersebut. Untuk tes-tes yang diupakai di perusahaan untuk tujuan recruitment, placement, atau training dipakai variasi tes-tes kepribadian, bakat, wawancara, focus group discussion (FGD) dan tes yang dikhususkan untuk pekerjaan tertentu (situational test).

Khusus untuk tes kepribadian, pengukuran yang dilakukan bukanlah pengukuran benar-salah, tetapi pengukuran untuk mengetahui jenis kepribadian yang ada dalam diri seseorang. Jawaban yang diberikan individu mencerminkan karakter kepribadian yang dimilikinya dan tidak dihubungkan dengan suatu kemampuan (ability) tertentu. Untuk ability test (Bakat dan Inteligensi), pengukuran dilakukan dengan melihat jawaban benar-salah dari individu, dan diskoring untuk melihat tingkat kemampuan individu tersebut.

Lalu apa yang bermasalah dengan tes psikologi ? Yang jarang diketahui oleh seseorang adalah tes psikologi sangat berhubungan erat dengan TUJUAN yang telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya, tes psikologi dilakukan dengan tujuan untuk recruitment petugas keamanan atau satpam. Jenis tes psikologi kemudian ditetapkan dalam suatu baterai tes (sekumpulan tes), standar yang digunakan, dan aspek-aspek psikologis apa yang mendapat perhatian utama, dan lain-lain. Orang yang berkepribadian penakut, misalnya, tidak mungkin menjadi seorang satpam. Begitu juga dengan tingkat inteligensi, seseorang yang memperoleh skor 145 (normal = 100) dalam tes inteligensi, secara standar melebihi standar normal yang ditetapkan dan oleh karena itu belum tentu cocok dengan tujuan pekerjaan sebagai satpam. Begitupula dengan aspek-aspek psikologis lain yang diketahui dari tes psikologi itu, dan begitu pula dengan berbagai jenis tujuan (pekerjaan, sekolah, diagnosa klinis, dll)  yang ditetapkan oleh pemakai tes psikologi.

TatJadi, kalau kita tidak lulus suatu tes psikologi bukan berarti bahwa kita bodoh atau tidak mampu. Jawaban yang paling mungkin adalah kita belum tentu cocok dengan jenis pekerjaan atau tujuan dari tes psikologi itu. Terkecuali untuk tes psikologi yang mendasarkan pengukurannya pada tingkap kemampuan (ability level) dari pesertanya, dimana peserta yang paling mampu yang diterima atau diluluskan. Misalnya untuk tes kesiapan masuk sekolah, tes untuk suatu pekerjaan khusus (pilot, mekanik, dll), dan jenis tes yang lain.

Gugatan dan kutukan terhadap tes psikologi lebih banyak disebabkan oleh ketidaktahuan peserta tes terhadap ukuran-ukuran yang diterapkan oleh pemakai tes psikologi. Sehingga timbul pikiran bahwa tes psikologi adalah semacam momok menakutkan.

Jawaban ini yang selalu saya berikan kepada orang yag bertanya, binatang seperti apa psikotes itu. Dengan harapan bahwa mereka dapat mengerti. Apakah anda mengerti ?