“Atheisme” yang (Tidak) Bertuhan
Friday, July 14th, 2006
Atheisme sering dikatakan sebagai suatu paham yang tidak mempercayai Tuhan, baik itu keberadaannya maupun perannya dalam kehidupan manusia. Sulit untuk merunut sejak kapan paham ini ada di muka bumi ini. Walaupun demikian, banyak orang yang mengklaim dirinya adalah atheis. Atheisme sendiri mulai diberikan landasan rasional ilmiah ketika Ludwig Feuerbach menerbitkan bukunya The Essence of Christianity dan melakukan kritik agama khususnya agama Kristen.
Atheisme model Ludwig Feuerbach adalah filsafat model "tak lain daripada….". Hal ini karena pemikiran yang diajukan hanya melihat sesuatu dibelakang/dibalik yang dibicarakannya. Bukannya secara jujur menyatakan kebenaran dan kesalahan dari agama tetapi langsung masuk kedalam adanya sesuatu dibelakang layar dari agama itu: "bahwa agama tak lain daripada….." Landasan filosofis ini sering disebut dengan nama Reduksionisme.
Dalam tulisan ini saya hanya mengungkapkan 4 landasan berpikir para pemikir-pemikir aliran utama Atheisme. tentunya dengan penjelasan singkat ala kadarnya. Keempat pemikir itu, yang ikut mempelopori filsafat kritis terhadap agama, adalah Ludwig Feuerbach, Sigmund Freud, Friederich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.
1. Atheisme Ludwig Feuerbach.
Feuerbach adalah orang yang pertama kali memberikan landasan rasional ilmiah terhadap atheisme. Dia juga adalah salah satu pendukung filsafat dialektis Hegelian. Alih-alih mendukung sepenuhnya konsep hegelian, hal yang menurutnya bertentangan antara dirinya dengan Hegel adalah tentang sesuatu yang nyata dan rasional. Bagi Feuerbach manusia adalah nyata dan rasional, sedangkan roh semesta (yang dinyatakan Hegel dan diasosiasikan dengan Tuhan/Allah) adalah sesuatu yang tidak nyata.
Bagi Feuerbach, agama adalah proyeksi manusia atas keterasingan dirinya. Agama menjadi tempat manusia mengasingkan dirinya dari kehidupannya. Sebagai proyeksi, agama tak lain daripada sesuatu yang diberikan manusia penghargaan positif bagi dirinya. Segala konsep tentang Tuhan, Malaikat, Surga, dan Neraka yang ada dalam agama adalah hasil dari proyeksi itu sendiri. Dengan kata lain manusia yang mengkonsepkan hal-hal itu. Manusia menciptakan Tuhan dan bukan Tuhan yang menciptakan manusia.
Agama berdampak positif bagi manusia. Segala sesuatu yang Maha, misalnya Adil, Baik, Penyayang, dll, yang ada dalam Tuhan Agama, tidak lain daripada proyeksi manusia itu sendiri. Hal itu sebenarnya telah ada dalam eksistensi manusia. Bukannya menjadikan sesuatu yang Maha itu menjadi milik pribadi manusia, manusia justru terjebak dalam pemujaan kepada agama dan Tuhan yang sebenarnya telah menjadi dirinya. Oleh karena itu manusia harus mengambil kembali ke-Maha-an itu kedalam dirinya. Agama bukanlah sesuatu yang menjadi pusat bagi manusia, tetapi pusatnya tidak lain adalah manusia itu sendiri.
2. Atheisme Sigmund Freud
Sigmund Freud adalah seorang psikiater yang menciptakan metode Psikoanalisis, suatu metode/teori yang kemudian menjadi salah satu aliran besar dalam psikologi. Freud mengikuti alur berpikir Feuerbach dengan landasan filsafat reduksionismenya, bahwa agama "tak lain daripada…".
Buku yang mengungkapkan atheisme Freud antara lain adalah Totem and Taboo (1913) dan Moses and Monotheism (1938). Menurut Freud, ritual agama mempunyai kemiripan dengan ritual obsesif kompulsif. Obsesif kompulsif adalah suatu gangguan psikologi (psychological disorder) dimana seseorang tidak mampu menahan keinginannya untuk melakukan suatu gerakan/perbuatan berulang-ulang, misalnya mencuci tangan berkali-kali, dll. Freud juga mengatakan "neurosis as an individual religion, religion as a universal obsessional neurosis". Suatu kalimat yang jelas nyata mengaitkan antara agama dan neurosis.
Dilain pihak, Freud juga mengatakan bahwa agama tak lain daripada sublimasi insting-insting seksual. Teori Psikoanalisis Freud dibangun diatas satu konsep yang disebut Psikoseksual, bahwa dorongan-dorongan seksual (sexual drive/libido) adalah dorongan yang terutama dalam diri manusia yang membuat manusia itu bertahan hidup. Sedangkan sublimasi adalah salah satu mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang dibangun manusia untuk menyeimbangkan egonya dari dorongan-dorongan yang berasal dari ketidaksadaran. Insting-insting seksual manusia harus diberi bentuk lain agar dapat diterima secara sosial, dan semuanya itu ada dan tampak dalam agama. Agama adalah sublimasi dari insting-insting seksual agar dapat diterima secara sosial di masyarakat.
3. Atheisme Friederich Nietzsche
"Whiter is God,’ he cried. ‘I shall tell you. We have killed him - you and I. All of us are murderers… God is dead. God remain dead. And we have killed him…" (Friederich Nietzsche, The Gay Science, 1882).
Kutipan diatas adalah pernyataan Nietzsche dalam salah satu bukunya. "God is dead" yang dikatakan oleh Nietzsche bukanlah pengertian Tuhan secara literal. Jika Tuhan telah mati berarti pada suatu saat Tuhan pernah ada. Apa yang dinyatakan oleh Nietzsche adalah kematian keagamaan di Eropa. Pengertian God is Dead adalah Tuhan dalam konteks Kekristenan di Eropa. Bahwa kepercayaan kepada Tuhan (pada saat itu adalah Kristen) adalah kepercayaan yang salah. Tuhan tidaklah lagi dapat dipercayai, dan oleh karena itu Dia telah mati, dan adalah tugas manusialah untuk membunuhnya (and we have killed him…).
Pandangan Nietzsche melegitimasi pandangan dalam bidang keilmuan (science), bahwa ilmu pengetahuan akan mengeluarkan Tuhan dari ranah kehidupan manusia. Filsafat, ilmu pengetahuan, politik, dan bidang lain akan memperlakukan Tuhan sebagai sesuatu yang tidak relevan dan tidak humanis.
4. Atheisme Jean-Paul Sartre
Sartre adalah salah satu tokoh terkemuka dalam Filsafat Eksistesialis. Dia adalah yang pertama kali mengatakan bahwa eksistensi mendahului esensi. Atheisme Sartre adalah salah satu inti dari filsafatnya.
Sartre menolak konsep Tuhan karena konsep Tuhan berisi kontradiksi dalam dirinya (self-contradiction). Sartre mendefiniskan Tuhan sebagai konsep yang being-in-itself-for itself. Konsep Tuhan sebagai in-itself memproposisikan bahwa Dia adalah entitas yang eksis, sempurna dalam dirinya sendiri, dan secara total tidak berhubungan. Sedangkan konsep for-itself memformulakan bahwa Dia adalah bebas secara sempurna dan tidak terikat kepada apapun juga. Kesimpulan logika haruslah menolak konsep seperti itu karena konsep sintesa itu berisi kontradiksi dalam dirinya sendiri (JP Sartre, Being and Nothingness : An Essay in Phenomenological Onthology, 1943)
Selain itu konsep keberadaan Tuhan membatasi kebebasan dan eksistensi manusia. Konsep Tuhan diadopsi oleh manusia untuk memberi arti dunia ini. Manusia menemukan konsep ini untuk menerangkan sesuatu yang tidak dapat diterangkan (explain the unexplainable). Konsep Tuhan adalah keinginan manusia untuk memenuhi ketidaksempurnaannya dan ketidakmampuannya.
====
Konsep-konsep Atheisme diatas dapat berkembang menjadi pemikiran-pemikiran baru dalam aliran-aliran atheisme. Dan perdebatab seputar konsep Ketuhanan akan terus berjalan sepanjang manusia masih memerlukan konsep itu.


